Wisudawan Tertua ITS Lulus di Usia 63 Tahun, Ini Sosoknya
Selasa, 27 September 2022 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
Namun dukungan sang istri serta para pembimbing, Alm Prof Dr Ir Nadjadji Anwar, Ir I Putu Artama Wiguna, serta Prof Erma Suryani membuat Adit terus berjuang meski telah mengalami empat kali penolakan publikasi. Mengangkat topik disertasi tentang konstruksi berkelanjutan, pada awal 2022 akhirnya ia pun berhasil menerbitkan dua publikasi internasional sekaligus.
Baca juga: Mau Masuk Kampus Terbaik di Amerika dan Inggris? Cek Syarat yang Diperlukan
Dalam penelitiannya, Adit mengungkapkan keprihatinan terhadap masih jauhnya prospek pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ia pun mengembangkan dynamic model, sebuah sistem di mana setiap variabelnya saling mempengaruhi. “Dalam kasus penelitian saya, diukur peningkatan konstruksi keberlanjutan dari pengurangan dampak lingkungan yang telah dilakukan,” terangnya.
Penyuka traveling ini pun berharap, ke depannya penelitian tersebut dapat secara perlahan dimanfaatkan para pengembang properti untuk mulai menggunakan material-material yang ramah lingkungan. Hal tersebut dapat diterapkan dengan memakai kembali material buangan serta desain bangunan yang lebih hemat energi. “Tentunya dibutuhkan pula kesadaran kolektif semua pihak agar kehidupan generasi selanjutnya dapat lebih baik,” ujarnya mengingatkan.
Merasakan berbagai keterbatasan dalam menjalankan pembangunan di daerah pelosok hingga berhasil menyelesaikan studi doktoral di usia yang tak lagi muda, membuat Adit berpesan kepada generasi muda untuk menjalani setiap proses pendidikan dengan penuh rasa syukur. “Seperti naik gunung, mencapai puncak itu hanya bonus. Yang terpenting adalah nikmati proses dan jalani dengan keikhlasan,” pungkasnya.
Baca juga: Mau Masuk Kampus Terbaik di Amerika dan Inggris? Cek Syarat yang Diperlukan
Dalam penelitiannya, Adit mengungkapkan keprihatinan terhadap masih jauhnya prospek pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Ia pun mengembangkan dynamic model, sebuah sistem di mana setiap variabelnya saling mempengaruhi. “Dalam kasus penelitian saya, diukur peningkatan konstruksi keberlanjutan dari pengurangan dampak lingkungan yang telah dilakukan,” terangnya.
Penyuka traveling ini pun berharap, ke depannya penelitian tersebut dapat secara perlahan dimanfaatkan para pengembang properti untuk mulai menggunakan material-material yang ramah lingkungan. Hal tersebut dapat diterapkan dengan memakai kembali material buangan serta desain bangunan yang lebih hemat energi. “Tentunya dibutuhkan pula kesadaran kolektif semua pihak agar kehidupan generasi selanjutnya dapat lebih baik,” ujarnya mengingatkan.
Merasakan berbagai keterbatasan dalam menjalankan pembangunan di daerah pelosok hingga berhasil menyelesaikan studi doktoral di usia yang tak lagi muda, membuat Adit berpesan kepada generasi muda untuk menjalani setiap proses pendidikan dengan penuh rasa syukur. “Seperti naik gunung, mencapai puncak itu hanya bonus. Yang terpenting adalah nikmati proses dan jalani dengan keikhlasan,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :