Deretan Pahlawan Nasional yang Pernah Menjadi Rektor
Selasa, 08 November 2022 - 13:33 WIB
loading...
A
A
A
Melalui pengabdiannya kepada Indonesia, Sardjito memperoleh penghargaan “Bintang Gerilya”. Penghargaan tersebut diberikan atas perjuangan gerilyanya dalam rangka membela kemerdekaan Indonesia. Selain itu, ia juga mendapatkan dua penghargaan “Bintang Mahaputera” dan “Bintang Kehormatan Keilmuan”. Atas jasanya pula, nama Sardjito diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito di Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Abdul Kahar Muzakir
Prof KH Abdul Kahar Muzakir adalah seorang pemikir Islam yang banyak berkontribusi di dunia pendidikan dan politik. Ia merintis berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta dan menjadi rektor pertamanya, pada 1945-1948. Ketika STI bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), yang berlokasi di Yogyakarta, Kahar juga menjabat sebagai rektor pertama yakni dari tahun 1948-1960. Ia bahkan tercatat sebagai rektor yang paling lama menjabat di UII.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Abdul Kahar Muzakir pernah menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Selain itu, ia juga menjadi bagian dari ‘panitia kecil’ yang beranggotakan sembilan orang. Mereka bertugas merumuskan kembali pokok-pokok pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 sebagai acuan dasar negara. Abdul Kahar Muzakir lahir di Gading, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta pada 16 April 1907. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 8 November 2019.
Baca juga: Gerhana Bulan Total, UIN Walisongo Adakan Pengamatan di Planetarium dan Observatorium
3. Arnold Mononutu
Prof Arnold Mononutu merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dan dihargai sebagai putra daerah yang gagah berani sekaligus pejuang nasional. Ia lahir di Manado pada 4 Desember 1896 dengan nama Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Arnold pernah mengenyam pendidikan di STOVIA, sebelum melanjutkan studi ke Belanda di bidang hukum. Di sana, nasionalismenya tergugah. Ketika pulang ke Tanah Air, Arnold berkiprah dalam pergerakan melawan Belanda.
2. Abdul Kahar Muzakir
Prof KH Abdul Kahar Muzakir adalah seorang pemikir Islam yang banyak berkontribusi di dunia pendidikan dan politik. Ia merintis berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta dan menjadi rektor pertamanya, pada 1945-1948. Ketika STI bertransformasi menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), yang berlokasi di Yogyakarta, Kahar juga menjabat sebagai rektor pertama yakni dari tahun 1948-1960. Ia bahkan tercatat sebagai rektor yang paling lama menjabat di UII.
Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, Abdul Kahar Muzakir pernah menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Selain itu, ia juga menjadi bagian dari ‘panitia kecil’ yang beranggotakan sembilan orang. Mereka bertugas merumuskan kembali pokok-pokok pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 sebagai acuan dasar negara. Abdul Kahar Muzakir lahir di Gading, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta pada 16 April 1907. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 8 November 2019.
Baca juga: Gerhana Bulan Total, UIN Walisongo Adakan Pengamatan di Planetarium dan Observatorium
3. Arnold Mononutu
Prof Arnold Mononutu merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dan dihargai sebagai putra daerah yang gagah berani sekaligus pejuang nasional. Ia lahir di Manado pada 4 Desember 1896 dengan nama Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Arnold pernah mengenyam pendidikan di STOVIA, sebelum melanjutkan studi ke Belanda di bidang hukum. Di sana, nasionalismenya tergugah. Ketika pulang ke Tanah Air, Arnold berkiprah dalam pergerakan melawan Belanda.
Lihat Juga :