12 Dosen dan Peneliti UI Masuk World’s Top 2% Scientist 2022, Ini Pesan Peneliti UI di Hari Pahlawan
Kamis, 10 November 2022 - 13:52 WIB
loading...
A
A
A
Nandy Setiadi Djaya Putra, salah seorang dosen FTUI mengatakan, tahun ini jumlah peneliti UI yang masuk ke dalam list top 2% world scientist bertambah lima orang menjadi 12 orang. Hal ini memperlihatkan kualitas hasil penelitian dosen UI semakin baik. “Saat ini sebagian besar dosen UI melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal-jurnal bereputasi bukan di sembarang tempat, sehingga hasilnya banyak dibaca dan menjadi rujukan bagi peneliti lain atau disitasi,” katanya.
Meningkatnya sitasi para peneliti UI ini menjadi salah satu parameter kenapa jumlah peneliti UI yang masuk ke dalam list top 2% world scientists semakin banyak. Untuk dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah bereputasi, suatu artikel ilmiah itu harus memiliki keterbaruan dan ditulis serta disajikan dengan baik. Riset yang baik dan bermutu tidak melulu dilakukan dengan alat-alat canggih namun dapat pula dilakukan dengan peralatan sederhana tapi harus dilakukan dengan metoda riset yang baik dan terpecaya. “Sederet nama peneliti Indonesia sudah masuk ke dalam list top 2% world scientist, namun demikian akan lebih baik lagi apabila hasil penelitian yang sudah dihasilkan oleh para peneliti Indonesia ini dapat dihilirisasi dan digunakan oleh masyarakat yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Terpilihnya 12 dosen dan peneliti UI dalam World’s Top 2% Scientist 2022 itu berdasarkan penilaian dari data Scopus hasil penelitian. Data tersebut ada secara otomatis dari hasil publikasi setiap dosen. “Misalnya, di Scopus saya tercatat 151 publikasi dan sudah ada 6.448 sitasi dan H indeks saya 22. Inilah yang mereka scoring. Jadi ada mesin yang selalu mengidetifikasi hasil publikasi para peneliti di seluruh dunia. Scopus ini adalah mesin yang secara khusus mengidentifikasi jurnal-jurnal bereputasi. Ada mesin lain seperti Scholar Google yang secara keseluruhan mengidentifikasi artikel yang terhubung internet. Jadi bisa bahasa Inggir atau Indonesia,” kata Prof. Nandy menambahkan.
Berkaitan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, Nandy mengungkapkan pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran. Nilai-nilai kepahlawanan yang harus dimiliki oleh seorang pahlawan yakni rela berkorban, mengutamakan kepentingan orang banyak, pantang mundur, cinta tanah air dan ikhlas. “Nilai-nilai tersebut harus kita tanamkan dalam kehidupan sebagai peneliti,” ujarnya.
Lebih lanjut Nandy menuturkan, seorang peneliti harus membela kebenaran dari hasil penelitiannya, mengorbankan tenaga, pemikiran, dan waktu. Peneliti tidak boleh mudah menyerah terhadap situasi atau kondisi yang sedang dihadapinya saat ini dan tetap terus berusaha sekuat mungkin untuk membela dan memperjuangkan kebenaran. Peneliti tidak boleh melakukan penelitian untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya, melainkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, serta negara. “Dengan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki pahlawan tersebut, kita bisa menjadi peneliti yang tangguh dan membuat bangsa Indonesia semakin bermartabat, lebih makmur, aman, tentram, dan damai,” ujar Prof. Nandy.
Meningkatnya sitasi para peneliti UI ini menjadi salah satu parameter kenapa jumlah peneliti UI yang masuk ke dalam list top 2% world scientists semakin banyak. Untuk dapat dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah bereputasi, suatu artikel ilmiah itu harus memiliki keterbaruan dan ditulis serta disajikan dengan baik. Riset yang baik dan bermutu tidak melulu dilakukan dengan alat-alat canggih namun dapat pula dilakukan dengan peralatan sederhana tapi harus dilakukan dengan metoda riset yang baik dan terpecaya. “Sederet nama peneliti Indonesia sudah masuk ke dalam list top 2% world scientist, namun demikian akan lebih baik lagi apabila hasil penelitian yang sudah dihasilkan oleh para peneliti Indonesia ini dapat dihilirisasi dan digunakan oleh masyarakat yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Terpilihnya 12 dosen dan peneliti UI dalam World’s Top 2% Scientist 2022 itu berdasarkan penilaian dari data Scopus hasil penelitian. Data tersebut ada secara otomatis dari hasil publikasi setiap dosen. “Misalnya, di Scopus saya tercatat 151 publikasi dan sudah ada 6.448 sitasi dan H indeks saya 22. Inilah yang mereka scoring. Jadi ada mesin yang selalu mengidetifikasi hasil publikasi para peneliti di seluruh dunia. Scopus ini adalah mesin yang secara khusus mengidentifikasi jurnal-jurnal bereputasi. Ada mesin lain seperti Scholar Google yang secara keseluruhan mengidentifikasi artikel yang terhubung internet. Jadi bisa bahasa Inggir atau Indonesia,” kata Prof. Nandy menambahkan.
Berkaitan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, Nandy mengungkapkan pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran. Nilai-nilai kepahlawanan yang harus dimiliki oleh seorang pahlawan yakni rela berkorban, mengutamakan kepentingan orang banyak, pantang mundur, cinta tanah air dan ikhlas. “Nilai-nilai tersebut harus kita tanamkan dalam kehidupan sebagai peneliti,” ujarnya.
Lebih lanjut Nandy menuturkan, seorang peneliti harus membela kebenaran dari hasil penelitiannya, mengorbankan tenaga, pemikiran, dan waktu. Peneliti tidak boleh mudah menyerah terhadap situasi atau kondisi yang sedang dihadapinya saat ini dan tetap terus berusaha sekuat mungkin untuk membela dan memperjuangkan kebenaran. Peneliti tidak boleh melakukan penelitian untuk kepentingannya sendiri atau kelompoknya, melainkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, serta negara. “Dengan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki pahlawan tersebut, kita bisa menjadi peneliti yang tangguh dan membuat bangsa Indonesia semakin bermartabat, lebih makmur, aman, tentram, dan damai,” ujar Prof. Nandy.
(atk)
Lihat Juga :