Regulasi Pembebasan Tugas Akhir Dorong Perguruan Tinggi Adaptif dengan Zaman
Senin, 04 September 2023 - 21:21 WIB
Baca juga: Ini Aturan Terbaru di Perguruan Tinggi, Skripsi Tak Wajib hingga Biaya Akreditasi Ditanggung Pemerintah
Riko mengatakan, idealnya perguruan tinggi, khususnya untuk perguruan tinggi akademik, untuk mencetak penerus budaya filosofis atau saintifik. Salah satu metode budaya filosofis atau saintifik adalah menuliskan temuan-temuannya. "Tapi pada faktanya, mayoritas orang tidak melulu harus menjadi seorang filsuf atau saintis. Di sisi lain, wadah untuk mengembangkan diri secara nonsaintifik yang diakui secara formal di jenjang perguruan tinggi jumlahnya bisa dihitung dengan jari," ujar Riko.
Jadi daripada memaksakan setiap orang menjadi saintis, akan lebih bijaksana agar menu di perguruan tinggi dibuat terbuka. Dengan begitu, bakat-bakat kodrati manusia bisa tercakupi dan terakui.
Riko menjelaskan, di Singapura pada awal pembangunan negerinya, perguruan tinggi dikhususkan agar lulusannya bisa bekerja di pabrik, bukan mempelajari siapa itu Plato dan sebagainya. Belakangan, ketika ekonominya bertumbuh dan rakyatnya sejahtera, barulah mereka mengakselerasi budaya pemikiran atau filsafat dan sainsnya. "Tapi, kita tidak bisa lagi meniru langkah Singapura karena sudah kadung tertinggal. Mau tidak mau, perguruan tinggi harus menyediakan semua ruang tersebut," jelas Riko.
Dengan begitu, menurut Riko, mahasiswa yang berbakat menjadi filsuf atau saintis akan dibimbing oleh dosen yang memang sudah terbukti portfolio karya tulisnya. Setidaknya bisa diketahui dari kualitas dan kuantitas publikasi yang dihasilkannya sebelum berkarir sebagai dosen di perguruan tinggi tertentu.
Riko mengatakan, idealnya perguruan tinggi, khususnya untuk perguruan tinggi akademik, untuk mencetak penerus budaya filosofis atau saintifik. Salah satu metode budaya filosofis atau saintifik adalah menuliskan temuan-temuannya. "Tapi pada faktanya, mayoritas orang tidak melulu harus menjadi seorang filsuf atau saintis. Di sisi lain, wadah untuk mengembangkan diri secara nonsaintifik yang diakui secara formal di jenjang perguruan tinggi jumlahnya bisa dihitung dengan jari," ujar Riko.
Jadi daripada memaksakan setiap orang menjadi saintis, akan lebih bijaksana agar menu di perguruan tinggi dibuat terbuka. Dengan begitu, bakat-bakat kodrati manusia bisa tercakupi dan terakui.
Riko menjelaskan, di Singapura pada awal pembangunan negerinya, perguruan tinggi dikhususkan agar lulusannya bisa bekerja di pabrik, bukan mempelajari siapa itu Plato dan sebagainya. Belakangan, ketika ekonominya bertumbuh dan rakyatnya sejahtera, barulah mereka mengakselerasi budaya pemikiran atau filsafat dan sainsnya. "Tapi, kita tidak bisa lagi meniru langkah Singapura karena sudah kadung tertinggal. Mau tidak mau, perguruan tinggi harus menyediakan semua ruang tersebut," jelas Riko.
Dengan begitu, menurut Riko, mahasiswa yang berbakat menjadi filsuf atau saintis akan dibimbing oleh dosen yang memang sudah terbukti portfolio karya tulisnya. Setidaknya bisa diketahui dari kualitas dan kuantitas publikasi yang dihasilkannya sebelum berkarir sebagai dosen di perguruan tinggi tertentu.
(wyn)
Lihat Juga :