Mahasiswa Ubaya Juara II National Accounting Paper Competition 2020
Selasa, 25 Agustus 2020 - 11:16 WIB
Chikita sapaan akrab mahasiswi asli Surabaya ini mengaku jika ada dua tahap yang harus dilalui untuk lolos ke babak final. Pada tahap pertama, tim Akuntansi Ubaya wajib mempresentasikan hasil paper yang telah dibuat. Selanjutnya, juri memberikan mosi (topik) dan beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan durasi waktu yang telah ditentukan. (Baca juga: 15 Perguruan Tinggi Masuk Klaster 1, Ini Harapan Kemendikbud )
“Ada sepuluh mosi yang sudah disiapkan oleh juri. Tahap mosi ini sifatnya impromptu dan pertanyaan harus dijawab dengan durasi waktu tiga menit. Akhirnya, kami mendapatkan mosi atau topik terkait manajemen lingkungan,” jelasnya.
Mahasiswi yang gemar mendengarkan musik ini menyampaikan bahwa persiapan kompetisi dilakukan kurang lebih selama satu bulan. Isi paper yang dibuat Chikita dan Daniel membahas mengenai alat pembayaran digital di era milenial atau sering disebut dengan cryptocurrency. Fenomena ini di Indonesia belum menjadi alat pembayaran yang sah atau diterima secara umum. Namun, beberapa negara seperti Jepang dan US sudah menerapkan bahkan telah menciptakan mata uang secara digital.
“Di Indonesia seperti ini belum resmi, maka belum ada standar akuntansi atau pajak yang mengatur. Jadi kami mencoba mengkaji bagaimana karakteristik Crypto Asset dan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan). Apakah lebih cocok setara kas atau instrumen keuangan? Crypto Asset ini sifatnya mendunia contohnya seperti Bitcoin,” papar Chikita.
Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini Chikita mengungkapkan adanya pengalaman menarik dan tantangan yang dirasakan ketika berkompetisi di tengah pandemi. Mahasiswi berusia 21 tahun ini menyebutkan ada keuntungan dan pelajaran yang bisa dipetik dengan mengikuti kompetisi daring. Salah satunya adalah lebih menghemat waktu dan menyimpan tenaga.
“Ada sepuluh mosi yang sudah disiapkan oleh juri. Tahap mosi ini sifatnya impromptu dan pertanyaan harus dijawab dengan durasi waktu tiga menit. Akhirnya, kami mendapatkan mosi atau topik terkait manajemen lingkungan,” jelasnya.
Mahasiswi yang gemar mendengarkan musik ini menyampaikan bahwa persiapan kompetisi dilakukan kurang lebih selama satu bulan. Isi paper yang dibuat Chikita dan Daniel membahas mengenai alat pembayaran digital di era milenial atau sering disebut dengan cryptocurrency. Fenomena ini di Indonesia belum menjadi alat pembayaran yang sah atau diterima secara umum. Namun, beberapa negara seperti Jepang dan US sudah menerapkan bahkan telah menciptakan mata uang secara digital.
“Di Indonesia seperti ini belum resmi, maka belum ada standar akuntansi atau pajak yang mengatur. Jadi kami mencoba mengkaji bagaimana karakteristik Crypto Asset dan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan). Apakah lebih cocok setara kas atau instrumen keuangan? Crypto Asset ini sifatnya mendunia contohnya seperti Bitcoin,” papar Chikita.
Berbeda dengan kompetisi sebelumnya, kali ini Chikita mengungkapkan adanya pengalaman menarik dan tantangan yang dirasakan ketika berkompetisi di tengah pandemi. Mahasiswi berusia 21 tahun ini menyebutkan ada keuntungan dan pelajaran yang bisa dipetik dengan mengikuti kompetisi daring. Salah satunya adalah lebih menghemat waktu dan menyimpan tenaga.
Lihat Juga :