Pendidikan Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Afirmasi Nyata
Sabtu, 19 Juli 2025 - 21:20 WIB
Dalam paparannya, Siti memaparkan empat langkah penting yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, kampanye Publik untuk Mengubah Persepsi Pendidikan inklusif membutuhkan perubahan pola pikir.
Baca juga: Tahun Ajaran Baru 2025, Kemendikdasmen Tegaskan Kurikulum Merdeka dan K13 Tetap Berlaku
“Disabilitas bukan kelemahan, tapi bagian dari keberagaman manusia,” jelas Siti. Ia menyerukan pentingnya edukasi sejak dini di lingkungan sekolah untuk membentuk persepsi yang setara dan inklusif.
Kemudian, pemerintah diminta menyediakan fasilitas umum yang mudah diakses seperti lift, trotoar yang rata, toilet ramah disabilitas, serta informasi dalam format braile, audio, dan bahasa isyarat.
Kemudian, pendidikan inklusif harus menjadi sarana mobilitas sosial, membuka ruang bagi ABK untuk mengembangkan potensi dan mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Siti menegaskan pentingnya pelatihan keterampilan dan kuota kerja di perusahaan untuk penyandang disabilitas. “Dunia kerja bukan hanya menerima ABK, tapi juga mengakui potensi mereka,” ujarnya.
Baca juga: Tahun Ajaran Baru 2025, Kemendikdasmen Tegaskan Kurikulum Merdeka dan K13 Tetap Berlaku
“Disabilitas bukan kelemahan, tapi bagian dari keberagaman manusia,” jelas Siti. Ia menyerukan pentingnya edukasi sejak dini di lingkungan sekolah untuk membentuk persepsi yang setara dan inklusif.
Kemudian, pemerintah diminta menyediakan fasilitas umum yang mudah diakses seperti lift, trotoar yang rata, toilet ramah disabilitas, serta informasi dalam format braile, audio, dan bahasa isyarat.
Kemudian, pendidikan inklusif harus menjadi sarana mobilitas sosial, membuka ruang bagi ABK untuk mengembangkan potensi dan mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Siti menegaskan pentingnya pelatihan keterampilan dan kuota kerja di perusahaan untuk penyandang disabilitas. “Dunia kerja bukan hanya menerima ABK, tapi juga mengakui potensi mereka,” ujarnya.
Lihat Juga :