Kuliah S1 sampai S3 Gratis di UGM, Ini Kisah Sukses Apia Dewi
Rabu, 30 Juli 2025 - 19:06 WIB
"Di sini, saya belajar dan bertumbuh dengan nilai, bukan sekadar nilai akademik,” katanya mengenai kesan menempuh Pendidikan di UGM, mengutip laman UGM, Rabu (30/7/2025).
Apia lulus cumlaude dari Program S1 Akuntansi UGM pada 2022, lalu sempat bekerja sebagai project management analyst di perusahaan multinasional. Namun, tekadnya untuk terus belajar dan menjadi akademisi mendorongnya melanjutkan studi pascasarjana melalui jalur beasiswa PMDSU pada 2023.
Baca juga: Lolos Kedokteran UGM, Anak Buruh Sawit dari Merauke Wujudkan Mimpi sejak Kelas 5 SD
Di balik kisah sukses ini, Apia menyimpan perjalanan penuh tantangan. Lahir dari keluarga sederhana di daerah terpencil, sang ayah yang seorang petani tak pernah menempuh pendidikan formal dan meninggal saat Apia duduk di semester lima. Ibunya hanya lulusan sekolah dasar dan mengelola warung kelontong. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib.
Perjuangan menempuh pendidikan tidaklah ringan, terutama saat mengikuti program percepatan dari Magister ke Doktor dalam waktu maksimal 4 tahun. Ia mengakui bahwa manajemen waktu dan pengendalian emosi menjadi tantangan besar. Beruntung, ia mendapat dukungan luar biasa dari lingkungan FEB UGM, mulai dari dosen pembimbing, promotor, staf, hingga rekan mahasiswa.
Baca juga: Kisah Dirga, Anak Tukang Bubur yang Tembus UGM Lewat Prestasi Tenis Nasional
Apia lulus cumlaude dari Program S1 Akuntansi UGM pada 2022, lalu sempat bekerja sebagai project management analyst di perusahaan multinasional. Namun, tekadnya untuk terus belajar dan menjadi akademisi mendorongnya melanjutkan studi pascasarjana melalui jalur beasiswa PMDSU pada 2023.
Baca juga: Lolos Kedokteran UGM, Anak Buruh Sawit dari Merauke Wujudkan Mimpi sejak Kelas 5 SD
Di balik kisah sukses ini, Apia menyimpan perjalanan penuh tantangan. Lahir dari keluarga sederhana di daerah terpencil, sang ayah yang seorang petani tak pernah menempuh pendidikan formal dan meninggal saat Apia duduk di semester lima. Ibunya hanya lulusan sekolah dasar dan mengelola warung kelontong. Meski begitu, kedua orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib.
Perjuangan menempuh pendidikan tidaklah ringan, terutama saat mengikuti program percepatan dari Magister ke Doktor dalam waktu maksimal 4 tahun. Ia mengakui bahwa manajemen waktu dan pengendalian emosi menjadi tantangan besar. Beruntung, ia mendapat dukungan luar biasa dari lingkungan FEB UGM, mulai dari dosen pembimbing, promotor, staf, hingga rekan mahasiswa.
Baca juga: Kisah Dirga, Anak Tukang Bubur yang Tembus UGM Lewat Prestasi Tenis Nasional
Lihat Juga :