Pertahankan Disertasi, Pimpinan I BPK Nyoman Adhi Suryadnyana Raih Gelar Doktor
Kamis, 31 Juli 2025 - 23:42 WIB
"BPK tidak mengambil alih peran pelaksana dan regulator, tetapi justru menjadi katalis transparansi dan efektivitas lintas sektor. Jadi, peran aktif BPK dalam Model NAS adalah bentuk adaptasi kelembagaan terhadap tantangan tata kelola nasional, khususnya di sektor industri strategis seperti pertahanan, tetapi semuanya itu tetap dalam fungsi koridor fungsi evaluatif," jelasnya.
Menurutnya, model NAS ini memiliki keunggulan dibandingkan model lain, yakni mampu menghubungkan dimensi akuntabilitas dan strategi secara integratif, menjadikan BPK bukan hanya watchdog, tetapi catalyst of change, memberikan solusi atas lemahnya sinergi antaraktor industri pertahanan, serta fokus pada outcome jangka panjang, bukan hanya output prosedural.
Dia juga menjawab dengan tegas pertanyaan Prof Dedi Purwana terkait penerapan model NAS, apakah bisa direplikasi untuk industri strategis lain atau hanya berlaku untuk PT Dirgantara Indonesia yang menjadi fokus penelitian disertasi tersebut. Meskipun model NAS dibangun dari studi kasus PT Dirgantara Indonesia, kata Nyoman Adhi, logika dan arsitekturnya bersifat generik, sehingga dapat direplikasi pada BUMN strategis lain seperti PT Pindad, PT PAL, maupun PT LEN, bahkan Industri strategis lainnya.
Hasil penelitian ini menemukan empat temuan utama, antara lain model NAS kemitraan strategis BPK dan PT Dirgantara Indonesia yang bertujuan meningkatkan TKDN dan integrasi rantai pasok global dan model Dashboard Digital sebagai inovasi tata kelola pemeriksaan berbasis data untuk mendorong efisiensi dan transparansi. Kebaruan utama dari penelitian ini adalah hadirnya model NAS yang memposisikan BPK sebagai mitra strategis dalam sistem kemitraan lintas sektor industri pertahanan berbasis evaluasi outcome.
Rekomendasi penelitian pada penguatan peran BPK sebagai mitra strategis dalam pemeriksaan berbasis evaluasi hasil, pemanfaatan teknologi digital untuk audit dan koordinasi, serta pembentukan forum lintas sektor yang mendukung pembangunan ekosistem industri pertahanan nasional yang lebih mandiri dan kompetitif.
Menurutnya, model NAS ini memiliki keunggulan dibandingkan model lain, yakni mampu menghubungkan dimensi akuntabilitas dan strategi secara integratif, menjadikan BPK bukan hanya watchdog, tetapi catalyst of change, memberikan solusi atas lemahnya sinergi antaraktor industri pertahanan, serta fokus pada outcome jangka panjang, bukan hanya output prosedural.
Dia juga menjawab dengan tegas pertanyaan Prof Dedi Purwana terkait penerapan model NAS, apakah bisa direplikasi untuk industri strategis lain atau hanya berlaku untuk PT Dirgantara Indonesia yang menjadi fokus penelitian disertasi tersebut. Meskipun model NAS dibangun dari studi kasus PT Dirgantara Indonesia, kata Nyoman Adhi, logika dan arsitekturnya bersifat generik, sehingga dapat direplikasi pada BUMN strategis lain seperti PT Pindad, PT PAL, maupun PT LEN, bahkan Industri strategis lainnya.
Hasil penelitian ini menemukan empat temuan utama, antara lain model NAS kemitraan strategis BPK dan PT Dirgantara Indonesia yang bertujuan meningkatkan TKDN dan integrasi rantai pasok global dan model Dashboard Digital sebagai inovasi tata kelola pemeriksaan berbasis data untuk mendorong efisiensi dan transparansi. Kebaruan utama dari penelitian ini adalah hadirnya model NAS yang memposisikan BPK sebagai mitra strategis dalam sistem kemitraan lintas sektor industri pertahanan berbasis evaluasi outcome.
Rekomendasi penelitian pada penguatan peran BPK sebagai mitra strategis dalam pemeriksaan berbasis evaluasi hasil, pemanfaatan teknologi digital untuk audit dan koordinasi, serta pembentukan forum lintas sektor yang mendukung pembangunan ekosistem industri pertahanan nasional yang lebih mandiri dan kompetitif.
(zik)
Lihat Juga :