Sejarah di Balik 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan

Kamis, 06 November 2025 - 16:00 WIB
Kematian Mallaby membuat pihak Inggris murka. Penggantinya, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, mengeluarkan ultimatum pada 10 November 1945. Ia menuntut rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata dan menghentikan perlawanan terhadap pasukan Inggris dan administrasi NICA. Ultimatum itu disertai ancaman bahwa kota Surabaya akan digempur dari darat, laut, dan udara jika tidak dipatuhi sebelum pukul 06.00 pagi.

Namun, rakyat Surabaya menolak tunduk. Semangat juang dan tekad mempertahankan kemerdekaan membuat pertempuran besar pecah di Surabaya selama hampir tiga minggu. Pertempuran ini sangat sengit hingga kota Surabaya dijuluki sebagai “neraka” bagi tentara Inggris.

Diperkirakan sekitar 20.000 rakyat Surabaya gugur, sebagian besar adalah warga sipil, sementara 150.000 orang lainnya terpaksa mengungsi. Dari pihak Inggris, sekitar 1.600 prajurit tewas, hilang, atau luka-luka, serta puluhan alat perang hancur.

Semangat heroik rakyat Surabaya yang tak kenal menyerah membuat Inggris kewalahan. Pertempuran ini juga melahirkan nama-nama besar yang dikenang hingga kini, seperti KH. Hasyim Asy’ari, Bung Tomo, Gubernur Suryo, dan Moestopo, yang berperan penting dalam mengobarkan semangat juang arek-arek Suroboyo.

Karena pengorbanan besar tersebut, pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pejuang dan rakyat Surabaya yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan Indonesia.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!