Peran Guru di Antara Krisis Karakter Siswa dan Rapuhnya Ketahanan Keluarga di Era Digital

Rabu, 26 November 2025 - 10:52 WIB
Minimnya ruang ekspresi yang sehat, baik di rumah maupun lingkungan sosial, memperparah keadaan. Ketidakmampuan menyalurkan emosi seperti kegelisahan dan kekecewaan sering kali berujung pada perilaku negatif di sekolah, mulai dari sikap acuh hingga tindakan agresif.

"Anak-anak kaum milenial itu juga punya persoalan, terutama dalam hal komunikasi maupun interaksi dengan sesama. Termasuk memberikan ruang untuk penyaluran kegelisahan dan kekecewaan,” kata penulis Manipulasi Kebijakan Pendidikan itu.

Pria kelahiran Gunungkidul, 9 September 1962 tersebut menambahkan bahwa kurangnya peran keluarga menjadi akar banyak persoalan, termasuk maraknya perundungan di sekolah. Prosedur penanganan kekerasan yang sudah ada tidak berjalan efektif karena kondisi keluarga siswa tidak kondusif.

"Inti persoalannya kenapa perundungan di sekolah berkembang meskipun sudah ada protap-protapnya, karena lingkungan keluarga itu bermasalah," tegasnya.

Ia menyinggung kembali konsep Tri Pusat Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, yang menempatkan keluarga sebagai pihak paling dominan dengan porsi 50 persen dalam pembentukan karakter siswa, disusul sekolah 30 persen dan lingkungan 20 persen. Ketimpangan peran keluarga, menurutnya, berdampak langsung terhadap perilaku siswa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!