Peran Guru di Antara Krisis Karakter Siswa dan Rapuhnya Ketahanan Keluarga di Era Digital
Rabu, 26 November 2025 - 10:52 WIB
"Seperti kasus SMA 72. Itu kan bapak ibunya masih ada, tetapi dia hanya hidup bersama ayahnya. Ibunya jadi pekerja migran," tuturnya.
Namun, peran tersebut membutuhkan kesiapan mental dan wawasan kebangsaan yang kuat dari para guru sendiri. Darmaningtyas menilai literasi sejarah dan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur bangsa penting agar guru mampu menjadi jangkar bagi siswa di tengah derasnya pengaruh digital.
Sebagai langkah fundamental, ia menekankan perlunya pendidik menggali kembali nilai-nilai dari para pendiri bangsa.
"Kuncinya, guru perlu membaca banyak hal, terutama biografi para pendiri bangsa sehingga bisa memahami jiwa kebangsaan, bagaimana negara ini dibentuk," pungkasnya.
Guru Perlu Menjadi Fasilitator, Bukan Mandor
Menghadapi situasi pelik ini, pendekatan kekerasan atau otoriter dinilai tidak lagi relevan. Guru dituntut menjadi fasilitator yang memungkinkan siswa tumbuh tanpa tekanan verbal maupun fisik.Namun, peran tersebut membutuhkan kesiapan mental dan wawasan kebangsaan yang kuat dari para guru sendiri. Darmaningtyas menilai literasi sejarah dan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur bangsa penting agar guru mampu menjadi jangkar bagi siswa di tengah derasnya pengaruh digital.
Sebagai langkah fundamental, ia menekankan perlunya pendidik menggali kembali nilai-nilai dari para pendiri bangsa.
"Kuncinya, guru perlu membaca banyak hal, terutama biografi para pendiri bangsa sehingga bisa memahami jiwa kebangsaan, bagaimana negara ini dibentuk," pungkasnya.
(abd)
Lihat Juga :