Burnout Kerap Disalahartikan, Pakar UGM Jelaskan Perbedaan Stres, Burnout, dan Depresi
Jum'at, 26 Desember 2025 - 07:50 WIB
Ia menyebutkan bahwa pada akhir tahun, pekerja umumnya dihadapkan pada tekanan tenggat waktu dan target kinerja yang tinggi. Sementara itu, mahasiswa masih berada dalam beban akademik yang relatif normal, sehingga kondisi yang dialami lebih tepat disebut sebagai stres, bukan burnout.
Baca juga: Fenomena Popcorn Brain Jarang Disadari, Ini Fakta dan Cara Mengatasinya
Lebih lanjut, Sumaryono menyoroti kecenderungan penggunaan istilah burnout yang kurang tepat, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, tekanan ringan kerap langsung dilabeli sebagai burnout, padahal secara psikologis burnout ditandai oleh rasa tidak berdaya yang mendalam. “Kalau sakit kepala atau pusing, itu tergolong stres. Burnout itu betul-betul merasa tidak mampu dan mengalami kelelahan berat untuk melakukan aktivitas,” jelasnya.
Adapun depresi, lanjut Sumaryono, sudah masuk ke ranah klinis dan memerlukan penanganan profesional secara serius. Terkait anggapan bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z lebih rentan mengalami burnout, ia tidak sepenuhnya sepakat. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada tingkat resiliensi dan pengalaman dalam menghadapi tekanan.
“Perbedaan generasi itu soal pengalaman menghadapi tekanan dan bagaimana mereka belajar melakukan coping atau mengatasi stres,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa generasi sebelumnya juga mengalami tekanan, hanya saja bentuk dan konteksnya berbeda.
Baca juga: Fenomena Popcorn Brain Jarang Disadari, Ini Fakta dan Cara Mengatasinya
Lebih lanjut, Sumaryono menyoroti kecenderungan penggunaan istilah burnout yang kurang tepat, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, tekanan ringan kerap langsung dilabeli sebagai burnout, padahal secara psikologis burnout ditandai oleh rasa tidak berdaya yang mendalam. “Kalau sakit kepala atau pusing, itu tergolong stres. Burnout itu betul-betul merasa tidak mampu dan mengalami kelelahan berat untuk melakukan aktivitas,” jelasnya.
Adapun depresi, lanjut Sumaryono, sudah masuk ke ranah klinis dan memerlukan penanganan profesional secara serius. Terkait anggapan bahwa Generasi Milenial dan Generasi Z lebih rentan mengalami burnout, ia tidak sepenuhnya sepakat. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada tingkat resiliensi dan pengalaman dalam menghadapi tekanan.
“Perbedaan generasi itu soal pengalaman menghadapi tekanan dan bagaimana mereka belajar melakukan coping atau mengatasi stres,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa generasi sebelumnya juga mengalami tekanan, hanya saja bentuk dan konteksnya berbeda.
Lihat Juga :