Cerita Tria Sofie Lulus S2 di Usia 22 Tahun, Jadi Magister Termuda Fakultas Geografi UGM
Minggu, 25 Januari 2026 - 10:14 WIB
“Ada fase di mana saya hampir tidak bertemu teman sama sekali. Fokus sepenuhnya pada diri sendiri dan apa yang sedang dikerjakan. Menurut saya, memang ada hal yang harus dikorbankan,” katanya.
Beruntung, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama baginya. Orang tua Sofie disebut sangat mendukung keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Saya sangat bersyukur karena keluarga, terutama orang tua, sangat mendukung,” ucapnya.
Dari sekitar 11 mahasiswa fast track di angkatannya, Sofie tercatat sebagai peserta termuda. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata-mata soal kecerdasan akademik.
Dengan IPK 3,78, Sofie menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab dan kegigihan dalam menjalani proses. “Saya tidak merasa sebagai orang yang sangat pintar. Tapi saya bertanggung jawab dengan apa yang saya mulai dan gigih menjalaninya,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang berminat mengikuti program fast track, Sofie berpesan agar mempertimbangkan arah karier di masa depan. “Program fast track ini sangat berorientasi pada riset. Jadi perlu dipikirkan dulu ingin berkarier ke mana. Jika tujuannya ke akademik, dosen, atau pengajar, program ini cukup worth it,” jelasnya.
Ia menutup dengan pesan motivasi bagi generasi muda agar tidak ragu mengejar pendidikan dan cita-cita. “Kalau ingin lanjut sekolah atau mengejar apa pun, kita tidak harus merasa paling pintar. Yang penting bertanggung jawab dan mau berjuang,” pungkas Sofie.
Beruntung, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama baginya. Orang tua Sofie disebut sangat mendukung keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Saya sangat bersyukur karena keluarga, terutama orang tua, sangat mendukung,” ucapnya.
Dari sekitar 11 mahasiswa fast track di angkatannya, Sofie tercatat sebagai peserta termuda. Namun, ia menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata-mata soal kecerdasan akademik.
Dengan IPK 3,78, Sofie menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab dan kegigihan dalam menjalani proses. “Saya tidak merasa sebagai orang yang sangat pintar. Tapi saya bertanggung jawab dengan apa yang saya mulai dan gigih menjalaninya,” ujarnya.
Kepada mahasiswa yang berminat mengikuti program fast track, Sofie berpesan agar mempertimbangkan arah karier di masa depan. “Program fast track ini sangat berorientasi pada riset. Jadi perlu dipikirkan dulu ingin berkarier ke mana. Jika tujuannya ke akademik, dosen, atau pengajar, program ini cukup worth it,” jelasnya.
Ia menutup dengan pesan motivasi bagi generasi muda agar tidak ragu mengejar pendidikan dan cita-cita. “Kalau ingin lanjut sekolah atau mengejar apa pun, kita tidak harus merasa paling pintar. Yang penting bertanggung jawab dan mau berjuang,” pungkas Sofie.
(nnz)
Lihat Juga :