Kisah dr Rafli, Lulusan Terbaik FK UI yang Raih Gelar Doktor dengan IPK 4,00
Senin, 16 Februari 2026 - 11:23 WIB
Baca juga: Putra Anies Baswedan, Mikail Azizi Raih Gelar Sarjana FEB UI: Another New Milestone
“Setiap rumah sakit bukan sekadar tempat kerja, melainkan tempat saya belajar langsung dari ketangguhan pasien-pasien kecil,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 20 Februari 1987 tersebut.
Keberhasilan akademiknya tidak lepas dari doa orang tua, dukungan keluarga, serta bimbingan guru-guru besar FKUI, terutama Prof. Dr. dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A., Subsp. Neuro(K) dan Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A., Subsp. Neuro(K).
“Tanpa bimbingan dan kepercayaan dari para guru, mustahil saya bisa menyelesaikan studi dengan hasil memuaskan,” tambahnya.
Baca juga: 9 Jalur Masuk Penerimaan Mahasiswa Baru UI 2026 dan Jadwal Pendaftarannya
Bagi dr. Rafli, tantangan terbesarnya selama melanjutkan studi sembari tetap berpraktik adalah menyeimbangkan waktu dan peran sebagai dosen, dokter, sekaligus sosok ayah. Namun hal tersebut terbukti tidak menghalangi langkahnya.
Justru dari keseimbangan peran itulah lahir pencapaian luar biasa: meraih IPK sempurna, menyelesaikan studi doktoral dalam empat semester, lulus di usia relatif muda, dan melahirkan inovasi penelitian yang bermanfaat bagi anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat.
“Setiap rumah sakit bukan sekadar tempat kerja, melainkan tempat saya belajar langsung dari ketangguhan pasien-pasien kecil,” ungkap pria kelahiran Jakarta, 20 Februari 1987 tersebut.
Keberhasilan akademiknya tidak lepas dari doa orang tua, dukungan keluarga, serta bimbingan guru-guru besar FKUI, terutama Prof. Dr. dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A., Subsp. Neuro(K) dan Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, Sp.A., Subsp. Neuro(K).
“Tanpa bimbingan dan kepercayaan dari para guru, mustahil saya bisa menyelesaikan studi dengan hasil memuaskan,” tambahnya.
Baca juga: 9 Jalur Masuk Penerimaan Mahasiswa Baru UI 2026 dan Jadwal Pendaftarannya
Bagi dr. Rafli, tantangan terbesarnya selama melanjutkan studi sembari tetap berpraktik adalah menyeimbangkan waktu dan peran sebagai dosen, dokter, sekaligus sosok ayah. Namun hal tersebut terbukti tidak menghalangi langkahnya.
Justru dari keseimbangan peran itulah lahir pencapaian luar biasa: meraih IPK sempurna, menyelesaikan studi doktoral dalam empat semester, lulus di usia relatif muda, dan melahirkan inovasi penelitian yang bermanfaat bagi anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat.
Inovasi Penelitian
Lihat Juga :