Himpunan Alumni Tanah IPB Gagas Pengembangan Proyek Karbon di Sektor Pertanian
Minggu, 01 Maret 2026 - 19:34 WIB
“Sehingga Indonesia perlu memastikan kesiapan kebijakan, teknologi, serta agregasi kelembagaan petani agar proyek karbon pertanian benar-benar bankable dan berdaya saing internasional,” ujarnya.
Dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. Suria Darma Tarigan, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, menekankan bahwa tanah merupakan carbon sink jangka panjang yang harus diukur dan dilaporkan dengan metodologi ilmiah yang kredibel.
Sementara itu, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, menggarisbawahi urgensi tata kelola proyek karbon agar selaras dengan dinamika ekonomi karbon global. Selanjutnya, Imam Basuki, Senior Wetland Specialist, menyoroti pentingnya pengelolaan lahan gambut dan ekosistem basah dalam mendukung agenda FoLU Net Sink 2030.
Diskusi yang dimoderatori oleh Haris Iskandar, Chief of Climate Solutions and Services Jejakin, mengerucut pada isu krusial, yakni biaya MRV, risiko alih fungsi lahan, potensi double counting, serta kebutuhan agregasi kelembagaan petani agar proyek menjadi layak secara ekonomi.
“Forum ini menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan carbon project pertanian. Namun keberhasilan hanya dapat dicapai jika proyek berbasis sains, berintegritas tinggi, transparan, serta menjamin perlindungan sosial bagi petani sebagai aktor utama,” kata Haris Iskandar.
Koko juga menjelaskan kegiatan ini menjadi langkah awal menuju Seminar Nasional 2026 yang diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih terstruktur dan implementatif. “Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, sektor pertanian Indonesia kini berada di persimpangan sejarah: menjadi korban perubahan iklim, atau menjadi pahlawan mitigasi melalui carbon project yang kredibel dan berkeadilan.
Dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. Suria Darma Tarigan, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, menekankan bahwa tanah merupakan carbon sink jangka panjang yang harus diukur dan dilaporkan dengan metodologi ilmiah yang kredibel.
Sementara itu, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, menggarisbawahi urgensi tata kelola proyek karbon agar selaras dengan dinamika ekonomi karbon global. Selanjutnya, Imam Basuki, Senior Wetland Specialist, menyoroti pentingnya pengelolaan lahan gambut dan ekosistem basah dalam mendukung agenda FoLU Net Sink 2030.
Diskusi yang dimoderatori oleh Haris Iskandar, Chief of Climate Solutions and Services Jejakin, mengerucut pada isu krusial, yakni biaya MRV, risiko alih fungsi lahan, potensi double counting, serta kebutuhan agregasi kelembagaan petani agar proyek menjadi layak secara ekonomi.
“Forum ini menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan carbon project pertanian. Namun keberhasilan hanya dapat dicapai jika proyek berbasis sains, berintegritas tinggi, transparan, serta menjamin perlindungan sosial bagi petani sebagai aktor utama,” kata Haris Iskandar.
Koko juga menjelaskan kegiatan ini menjadi langkah awal menuju Seminar Nasional 2026 yang diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih terstruktur dan implementatif. “Dengan perubahan iklim yang semakin nyata, sektor pertanian Indonesia kini berada di persimpangan sejarah: menjadi korban perubahan iklim, atau menjadi pahlawan mitigasi melalui carbon project yang kredibel dan berkeadilan.
(wur)
Lihat Juga :