Himpunan Alumni Tanah IPB Gagas Pengembangan Proyek Karbon di Sektor Pertanian
Minggu, 01 Maret 2026 - 19:34 WIB
“Tujuannya untuk merumuskan arah pengembangan carbon project pertanian yang kredibel, berintegritas, dan berpihak pada kesejahteraan petani,” ujarnya.
Pada kegiatan ini, Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University, Puji Mudiana, S.P., M.A., membuka acara. Ia hadir mewakili rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet. Mendampinginya adalah Kepala Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Dr. Ir. R.A. Dyah Tjahyandari Suryaningtyas, M.Appl.Sc.
Dalam sambutannya, Puji Mudiana menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam memastikan transisi ekonomi hijau berjalan berbasis sains. Ia juga mengatakan kehadiran perguruan tinggi ini sudah sepatutnya bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Di sini menjadi penting juga adanya landasan ilmiah ilmu tanah dalam pengembangan proyek karbon pertanian,” katanya.
Baca Juga : Dukung Giant Sea Wall, Kemendiktisaintek Akan Bentuk Satgas Khusus
Acara ini menghadirkan Dr. Prayudi Syamsuri, S.P., M.Si., wakil Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB sekaligus Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Konektivitas pada Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, sebagai pembicara kunci. Hadir juga sebagai pembicara Jarot Indarto, S.P., M.T., M.Sc., Ph.D., Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas; Dr. Ratih Damayanti, S.Hut., M.Si., Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran, BRIN; Erlinda Ekaputri, Country Director Wildlife Works Indonesia; serta M. Nizar Zulkarnaen, Group Lead Forestry and Nature-Based Solutions dan Partner PT Hatfield Indonesia.
Prayudi Syamsuri mengatakan proyek karbon pertanian ini bisa menjadi instrumen strategis yang mampu menjembatani agenda penurunan emisi nasional dan ketahanan pangan. Namun hal itu hanya akan berhasil, kata dia, jika dibangun di atas integritas ilmiah, sistem MRV yang kredibel, tata kelola yang transparan, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil bagi petani kecil. Di sini perlu dipertimbangkan pasar karbon global yang menuntut adanya additionality dan kredibilitas tinggi,” katanya mengingatkan.
Pada kegiatan ini, Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University, Puji Mudiana, S.P., M.A., membuka acara. Ia hadir mewakili rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet. Mendampinginya adalah Kepala Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Dr. Ir. R.A. Dyah Tjahyandari Suryaningtyas, M.Appl.Sc.
Dalam sambutannya, Puji Mudiana menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam memastikan transisi ekonomi hijau berjalan berbasis sains. Ia juga mengatakan kehadiran perguruan tinggi ini sudah sepatutnya bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Di sini menjadi penting juga adanya landasan ilmiah ilmu tanah dalam pengembangan proyek karbon pertanian,” katanya.
Baca Juga : Dukung Giant Sea Wall, Kemendiktisaintek Akan Bentuk Satgas Khusus
Acara ini menghadirkan Dr. Prayudi Syamsuri, S.P., M.Si., wakil Ketua Umum DPP Himpunan Alumni IPB sekaligus Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Konektivitas pada Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, sebagai pembicara kunci. Hadir juga sebagai pembicara Jarot Indarto, S.P., M.T., M.Sc., Ph.D., Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas; Dr. Ratih Damayanti, S.Hut., M.Si., Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam, dan Ketenaganukliran, BRIN; Erlinda Ekaputri, Country Director Wildlife Works Indonesia; serta M. Nizar Zulkarnaen, Group Lead Forestry and Nature-Based Solutions dan Partner PT Hatfield Indonesia.
Prayudi Syamsuri mengatakan proyek karbon pertanian ini bisa menjadi instrumen strategis yang mampu menjembatani agenda penurunan emisi nasional dan ketahanan pangan. Namun hal itu hanya akan berhasil, kata dia, jika dibangun di atas integritas ilmiah, sistem MRV yang kredibel, tata kelola yang transparan, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil bagi petani kecil. Di sini perlu dipertimbangkan pasar karbon global yang menuntut adanya additionality dan kredibilitas tinggi,” katanya mengingatkan.
Lihat Juga :