Aksi Cepat Guru di Limapuluh Kota: TKA Digelar di Bukit demi Sinyal Internet
Selasa, 14 April 2026 - 18:06 WIB
Baca juga: TKA SMP 2026 Lancar di Hari Pertama, Ini Kunci Suksesnya
Langkah cepat tersebut dinilai sebagai bentuk nyata dedikasi dan tanggung jawab guru di lapangan. Di tengah keterbatasan, para guru tetap berupaya memastikan proses asesmen berjalan tanpa harus menunda pelaksanaan.
Menurut Antoni, tanpa inisiatif tersebut, pelaksanaan TKA berisiko tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal. Hal ini tentu akan menimbulkan persoalan baru, baik bagi siswa maupun sekolah, terutama dalam menjaga kesinambungan proses evaluasi pembelajaran.
Dari sisi kebijakan, sekolah sebenarnya memiliki opsi untuk bergabung dengan satuan pendidikan lain. Namun, kondisi geografis menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Akses menuju sekolah lain tidak hanya jauh, tetapi juga memiliki tingkat risiko tinggi, terutama ketika cuaca tidak mendukung. “Jika bergabung ke sekolah lain, jaraknya jauh dan medannya berat, apalagi saat hujan sangat berisiko,” jelas Antoni.
Oleh karena itu, sekolah memutuskan untuk melaksanakan ujian secara mandiri di lokasi yang dianggap paling memungkinkan. Meskipun terdapat akses jaringan melalui layanan BAKTI Kominfo dan Telkomsel, kondisi di lapangan tidak selalu stabil, terlebih saat terjadi gangguan listrik.
Kondisi ini juga menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di wilayah terpencil. Hingga saat ini, akses menuju sekolah masih terbatas dan memerlukan upaya lebih untuk menjangkaunya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju lokasi tidak memungkinkan dilakukan dalam satu hari.
Antoni menilai dedikasi para guru di wilayah tersebut patut mendapatkan perhatian lebih luas. Mengajar di daerah dengan keterbatasan akses bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang bersedia menjalankannya. “Tidak banyak yang mau mengajar di daerah seperti itu, sehingga kami sangat menghargai dedikasi mereka,” katanya.
Langkah cepat tersebut dinilai sebagai bentuk nyata dedikasi dan tanggung jawab guru di lapangan. Di tengah keterbatasan, para guru tetap berupaya memastikan proses asesmen berjalan tanpa harus menunda pelaksanaan.
Menurut Antoni, tanpa inisiatif tersebut, pelaksanaan TKA berisiko tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal. Hal ini tentu akan menimbulkan persoalan baru, baik bagi siswa maupun sekolah, terutama dalam menjaga kesinambungan proses evaluasi pembelajaran.
Dari sisi kebijakan, sekolah sebenarnya memiliki opsi untuk bergabung dengan satuan pendidikan lain. Namun, kondisi geografis menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Akses menuju sekolah lain tidak hanya jauh, tetapi juga memiliki tingkat risiko tinggi, terutama ketika cuaca tidak mendukung. “Jika bergabung ke sekolah lain, jaraknya jauh dan medannya berat, apalagi saat hujan sangat berisiko,” jelas Antoni.
Oleh karena itu, sekolah memutuskan untuk melaksanakan ujian secara mandiri di lokasi yang dianggap paling memungkinkan. Meskipun terdapat akses jaringan melalui layanan BAKTI Kominfo dan Telkomsel, kondisi di lapangan tidak selalu stabil, terlebih saat terjadi gangguan listrik.
Kondisi ini juga menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di wilayah terpencil. Hingga saat ini, akses menuju sekolah masih terbatas dan memerlukan upaya lebih untuk menjangkaunya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perjalanan menuju lokasi tidak memungkinkan dilakukan dalam satu hari.
Antoni menilai dedikasi para guru di wilayah tersebut patut mendapatkan perhatian lebih luas. Mengajar di daerah dengan keterbatasan akses bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang bersedia menjalankannya. “Tidak banyak yang mau mengajar di daerah seperti itu, sehingga kami sangat menghargai dedikasi mereka,” katanya.
Lihat Juga :