Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah

Rabu, 03 Juni 2026 - 20:00 WIB
Meski demikian, seluruh hasil penelitian ini masih berasal dari uji laboratorium dan uji pada hewan percobaan. Sebelum Tawas Ut dapat digunakan secara luas pada manusia, masih diperlukan serangkaian uji klinis lebih lanjut.

“Kami sudah menyaring puluhan tanaman dari Indonesia, dan tidak ada yang seefektif ini. Uji in vitro-nya bagus, lebih baik daripada senyawa standar. Lalu kami mengonfirmasi dengan menggunakan model hewan uji, dan hasilnya juga sangat jelas. Ini mendukung apa yang telah diketahui masyarakat Dayak selama berabad-abad bahwa tanaman ini memang berkhasiat.” Jelas Prof. Ari.

Para peneliti juga berhasil mengidentifikasi tiga zat aktif utama yang terkandung dalam akar Tawas Ut. Ketiganya termasuk dalam keluarga, flavonoid, yaitu senyawa alami yang juga ditemukan dalam teh hijau, anggur merah, dan berbagai buah beri, serta dikenal luas memiliki aktivitas antioksidan yang baik bagi tubuh. Menariknya, ketiga senyawa ini baru pertama kali ditemukan pada spesies tanaman tersebut.

Dengan bantuan simulasi komputer, para peneliti kemudian mencocokkan ketiga senyawa tersebut dengan enzim pemecah gula, layaknya mencari kunci yang paling tepat untuk membuka gembok. Hasilnya, salah satu senyawa menunjukkan kemampuan mengikat enzim lebih kuat dibandingkan Acarbose. Artinya, senyawa ini mampu “berebut tempat” dengan karbohidrat pada enzim, sehingga proses pemecahan gula dapat dihambat sebelum diserap oleh tubuh.

Nilai tambah lainnya adalah bahwa, karena berasal dari bahan alam, senyawa ini berpotensi lebih ramah bagi sistem pencernaan dibandingkan dengan obat sintetis tertentu yang kerap menimbulkan efek samping seperti kembung atau mual.

Penelitian ini sejalan dengan program pemerintah dalam mengembangkan obat berbasis herbal sekaligus memperkuat kemandirian farmasi nasional. Dengan memvalidasi secara ilmiah kearifan lokal masyarakat Dayak, penelitian ini berkontribusi dalam mentransformasi pengetahuan tradisional menjadi produk kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Tugas kita adalah memvalidasi, kemudian mengembalikan pengetahuan itu kepada masyarakat bahwa tanaman ini memang dapat dimanfaatkan. Pengetahuan ini juga dapat dikembangkan menjadi produk yang terjangkau, sehingga obat tradisional dapat menjadi bagian dari kemandirian bangsa,” tegas Prof. Ari.

Riset kolaboratif ini membuktikan bahwa kekayaan hayati Nusantara, apabila diteliti dengan serius, dapat menjadi fondasi kemandirian kefarmasian Indonesia. Sebagaimana pesan Prof. Ari kepada generasi muda, “Indonesia punya pintu utama menuju kemandirian kefarmasian, dan pintu itu terbuka dari hutan-hutan yang selama ini dijaga oleh leluhur kita”
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!