Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah
Rabu, 03 Juni 2026 - 20:00 WIB
Sampel pertama diperoleh dari Kalimantan pada 2015, dan selama hampir satu dekade tim melakukan serangkaian tahapan mulai dari isolasi senyawa aktif, uji laboratorium (in vitro), hingga uji pada hewan percobaan (in vivo).
"Saya sudah meneliti tanaman obat hampir 20 tahun, Ekstrak tanaman ini termasuk unik, serta memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi,” tutur Prof. Ari.
Sebelumnya, tim telah menyaring 28 jenis sayuran Indonesia, dari kenikir, terong, kangkung, hingga kelor untuk mencari kandidat antidiabetes. Namun, tidak ada yang menunjukkan potensi sekuat Tawas Ut. Setelah uji laboratorium menunjukkan hasil yang menonjol, tim memutuskan melanjutkan penelitian hingga tahap uji hewan yang selesai dilaksanakan pada 2024.
Secara sederhana, tanaman ini bekerja dengan cara menghambat enzim pemecah karbohidrat menjadi gula di dalam usus. “Tanaman ini memiliki komponen fenolik dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Ia menghambat pemecahan karbohidrat menjadi gula, sehingga jumlah gula yang masuk ke aliran darah pun berkurang,” jelas Prof. Ari.
Enzim yang dihambat bernama alfa-glukosidase, yaitu enzim yang bekerja di usus halus untuk mengurai karbohidrat menjadi glukosa sebelum diserap ke dalam darah. Ibarat pintu gerbang yang mengatur lalu lintas gula, tanaman ini “mengunci” pintu tersebut agar lonjakan gula setelah makan tidak terlalu tinggi. Mekanisme serupa juga digunakan oleh Acarbose, obat antidiabetes yang telah lama digunakan secara klinis.
Pada uji laboratorium, ekstrak akar Tawas Ut terbukti jauh lebih efisien dalam menghambat enzim pemecah karbohidrat dibandingkan Acarbose. Untuk menghasilkan efek yang sama, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis hampir 5 kali lebih kecil. Semakin kecil dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek tertentu, semakin kuat aktivitas suatu zat aktif.
Keampuhan ini kemudian diuji secara langsung pada tikus yang telah diinduksi diabetes. Hasilnya, dalam 14 hari pengobatan, kadar gula darah tikus turun hingga 57 persen, lebih tinggi dibandingkan Glibenklamid, obat diabetes lain yang juga umum diresepkan dokter, yang hanya mencapai penurunan sekitar 44 persen.
Ekstrak ini juga membantu menurunkan kadar lemak darah, dengan penurunan trigliserida hampir 40 persen dan kolesterol sekitar 28 persen. Temuan ini penting karena penderita diabetes kerap mengalami gangguan metabolik lain secara bersamaan, termasuk tingginya kadar lemak dalam darah.
Pemeriksaan tambahan pada jaringan hati tikus juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kerusakan sel hati pada kelompok yang diberi ekstrak Tawas Ut jauh lebih ringan dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat pengobatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tanaman tersebut tidak hanya berpotensi menurunkan kadar gula, tetapi juga membantu melindungi hati dari kerusakan akibat diabetes.
"Saya sudah meneliti tanaman obat hampir 20 tahun, Ekstrak tanaman ini termasuk unik, serta memiliki kandungan polifenol yang sangat tinggi,” tutur Prof. Ari.
Sebelumnya, tim telah menyaring 28 jenis sayuran Indonesia, dari kenikir, terong, kangkung, hingga kelor untuk mencari kandidat antidiabetes. Namun, tidak ada yang menunjukkan potensi sekuat Tawas Ut. Setelah uji laboratorium menunjukkan hasil yang menonjol, tim memutuskan melanjutkan penelitian hingga tahap uji hewan yang selesai dilaksanakan pada 2024.
Secara sederhana, tanaman ini bekerja dengan cara menghambat enzim pemecah karbohidrat menjadi gula di dalam usus. “Tanaman ini memiliki komponen fenolik dan antioksidan yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Ia menghambat pemecahan karbohidrat menjadi gula, sehingga jumlah gula yang masuk ke aliran darah pun berkurang,” jelas Prof. Ari.
Enzim yang dihambat bernama alfa-glukosidase, yaitu enzim yang bekerja di usus halus untuk mengurai karbohidrat menjadi glukosa sebelum diserap ke dalam darah. Ibarat pintu gerbang yang mengatur lalu lintas gula, tanaman ini “mengunci” pintu tersebut agar lonjakan gula setelah makan tidak terlalu tinggi. Mekanisme serupa juga digunakan oleh Acarbose, obat antidiabetes yang telah lama digunakan secara klinis.
Pada uji laboratorium, ekstrak akar Tawas Ut terbukti jauh lebih efisien dalam menghambat enzim pemecah karbohidrat dibandingkan Acarbose. Untuk menghasilkan efek yang sama, Tawas Ut hanya membutuhkan dosis hampir 5 kali lebih kecil. Semakin kecil dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek tertentu, semakin kuat aktivitas suatu zat aktif.
Keampuhan ini kemudian diuji secara langsung pada tikus yang telah diinduksi diabetes. Hasilnya, dalam 14 hari pengobatan, kadar gula darah tikus turun hingga 57 persen, lebih tinggi dibandingkan Glibenklamid, obat diabetes lain yang juga umum diresepkan dokter, yang hanya mencapai penurunan sekitar 44 persen.
Ekstrak ini juga membantu menurunkan kadar lemak darah, dengan penurunan trigliserida hampir 40 persen dan kolesterol sekitar 28 persen. Temuan ini penting karena penderita diabetes kerap mengalami gangguan metabolik lain secara bersamaan, termasuk tingginya kadar lemak dalam darah.
Pemeriksaan tambahan pada jaringan hati tikus juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kerusakan sel hati pada kelompok yang diberi ekstrak Tawas Ut jauh lebih ringan dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat pengobatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa tanaman tersebut tidak hanya berpotensi menurunkan kadar gula, tetapi juga membantu melindungi hati dari kerusakan akibat diabetes.
Lihat Juga :