Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan

Minggu, 05 Juli 2026 - 08:31 WIB
Ia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama institusi itu. Juga jejak-jejak akademik yang menunjukkan betapa panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung.

Prof Dermawan Wibisono menjadi suara yang paling banyak menjelaskan filosofi, arah, dan tantangan Museum ITB. Ia melihat peresmian ini sebagai “starting point” bagi generasi muda. Bagi Dermawan, nilai museum tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Museum harus menjadi alat belajar yang lebih konkret dibanding ruang kelas konvensional.

Ia membandingkannya dengan pengalaman belajar di kelas yang kerap pasif. “Selama ini kita belajar hanya dalam kelas saja. Dengan adanya museum ini, siswa-siswa dari SD, SMP, SMA bisa belajar dengan melihat praktisnya, contoh praktisnya,” ujarnya. Baca juga: Menelusuri Jejak Kehidupan Rasulullah di Museum Biografi Nabi Muhammad di Makkah

Ia memberi contoh sederhana: konsep gaya dalam ilmu fisika atau teknik. Di kelas, gaya bisa terasa abstrak. Namun, di museum, konsep itu dapat dihubungkan dengan jembatan, beban, struktur, atau simulasi visual.

“Katakanlah orang belajar gaya. Gaya itu apa? Gaya yang terjadi dalam jembatan itu apa yang harus dihitung? Apa yang terjadi jika bebannya terlalu berat? Mereka bisa melihat film-filmnya sehingga mereka merasa mendapatkan contoh nyata,” kata Dermawan.

Di titik ini, Museum ITB mengambil posisi sebagai jembatan antara teori dan pengalaman. Ia tidak menggantikan kelas, tetapi memperluas cara belajar. Ia menumbuhkan imajinasi teknis, bukan hanya ingatan historis.

Dermawan kemudian membawa gagasan itu ke wilayah yang lebih luas: rasa percaya diri bangsa. “Nilai pertama adalah bahwa kita bukan bangsa yang lebih rendah dari bangsa lain. Kita memiliki competitiveness dari segi kemampuan. Karena itu kita ingin membuat generasi berikutnya memiliki daya juang yang tinggi, tidak minder, memiliki kemampuan kompetisi yang bagus, dan juga fairness,” ujarnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!