Siswa di Blitar Kembali Belajar Tatap Muka, Wali Murid: Tidak Efektif
Jum'at, 13 November 2020 - 23:06 WIB
"Para siswa tidak langsung pulang. Lebih dulu bermain di luar sekolah. Itu yang dikhawatirkan. Karena membuka peluang terjadinya klaster baru," terang Hartono yang juga sebagai Ketua Ansor NU Kota Blitar. Jumlah lembaga sekolah mulai SD-SMA di Kota Blitar sebanyak 128 lembaga. (Baca juga: Pandemi Covid-19 Mengakselerasi Transformasi Digital di Dunia Pendidikan )
Perinciannya, SD dan sederajat 72 lembaga, SMP sebanyak 26 lembaga, SMA 13 lembaga dan SMK sebanyak 17 lembaga. Putra sulung Hartono merupakan siswa kelas enam di salah satu sekolah dasar negeri Kota Blitar. Hingga saat ini masih melaksanakan sistem belajar daring.
Menurut Hartono, sistem pembelajaran daring memang lebih melindungi siswa dari penularan COVID-19. Namun juga ada kelemahannya. Yakni terutama terkait pemahaman materi pelajaran. Gaya komunikasi daring tidak cukup menjawab kebingungan siswa.
Untuk menambal kekurangan tersebut, Hartono mengaku terpaksa mendatangkan guru les privat ke rumah. Artinya, ada biaya yang harus ia keluarkan. "Setiap bulan sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu," tambahnya. Hartono mengatakan, dirinya sepakat Pemkot Blitar lebih tegas memilih. (Baca juga: Vokasi UI Beri Pelatihan Wirausaha Mandiri Digital Art untuk Anak dan Remaja )
Jika memang masih terjadi pandemi, sebaiknya tetap memilih pembelajaran daring. Begitu juga sebaliknya jika pandemi COVID-19 dipastikan sudah tidak ada, pembelajaran tatap muka segera diberlakukan. "Jadi tidak terkesan setengah setengah," kata Hartono.
Perinciannya, SD dan sederajat 72 lembaga, SMP sebanyak 26 lembaga, SMA 13 lembaga dan SMK sebanyak 17 lembaga. Putra sulung Hartono merupakan siswa kelas enam di salah satu sekolah dasar negeri Kota Blitar. Hingga saat ini masih melaksanakan sistem belajar daring.
Menurut Hartono, sistem pembelajaran daring memang lebih melindungi siswa dari penularan COVID-19. Namun juga ada kelemahannya. Yakni terutama terkait pemahaman materi pelajaran. Gaya komunikasi daring tidak cukup menjawab kebingungan siswa.
Untuk menambal kekurangan tersebut, Hartono mengaku terpaksa mendatangkan guru les privat ke rumah. Artinya, ada biaya yang harus ia keluarkan. "Setiap bulan sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu," tambahnya. Hartono mengatakan, dirinya sepakat Pemkot Blitar lebih tegas memilih. (Baca juga: Vokasi UI Beri Pelatihan Wirausaha Mandiri Digital Art untuk Anak dan Remaja )
Jika memang masih terjadi pandemi, sebaiknya tetap memilih pembelajaran daring. Begitu juga sebaliknya jika pandemi COVID-19 dipastikan sudah tidak ada, pembelajaran tatap muka segera diberlakukan. "Jadi tidak terkesan setengah setengah," kata Hartono.
Lihat Juga :