2 Dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta Dikukuhkan sebagai Guru Besar
Jum'at, 15 Januari 2021 - 00:18 WIB
Ahmad Syahid, dalam orasi ilmiahnya berjudul “Manusia-manusia Polymatch” mengatakan, bahwa di dalam Islam, niat berkesadaran sudah dicatat merupakan separuh dari amal perbuatan. Dari perspektif psikologi, epistemology, dan filsafat dapat disebut bahwa niat berkesadaran manusia tidak sampai pada apperception juga tidak mengantarkannya pada kesadaran empiris atau erfahrung.
Merealisasikannya niat dalam kenyataan sadar disebut, menurut dia, dianggap sebagai kesempurnaan perbuatan. Niat adalah ruh yang menjadi syarat ”self-determination” manusia polymath, yang tetap menjaga “identitas” (identity) dirinya dalam usaha mencipta diri sebagai citra Ilahi, sehingga sejak niat hingga mewujud sebuah karya agung senantiasa terkandung tesis, saintifik dan estetis sekaligus. Baca juga: Besok, UIN Jakarta Kembali Kukuhkan Dua Guru Besar
“Kita bisa meminjam pikiran Iqbal tentang Ego, sebagai Asrar-i-Khudî dan mengambil inspirasi dari konsep Théodicée Leibniz, bahwa manusia hidup di dunia sebaik mungkin karena manusia dan dunia ini diciptakan oleh Tuhan yang Maha Sempurna pula," kata Ahmad Syahid dalam orasinya seperti dikutip dari laman resmi uinjkt.ac.id, Kamis (14/1/2021).
Pandangan Leibniz, menurut Syahid, mirip dengan pandangan teologis Ma’bad al-Juhanni di Bashrah, Irak, para pendiri firqah qadariyah yang berkembang pada abad ke-7.
“Kita dapat membangun kehidupan peradaban manusia seindah, sebaik, sebijak, dan sesubur seperti yang kita inginkan dalam rangka mendekat, bahkan kembali, kepada Tuhan,” katanya.
Merealisasikannya niat dalam kenyataan sadar disebut, menurut dia, dianggap sebagai kesempurnaan perbuatan. Niat adalah ruh yang menjadi syarat ”self-determination” manusia polymath, yang tetap menjaga “identitas” (identity) dirinya dalam usaha mencipta diri sebagai citra Ilahi, sehingga sejak niat hingga mewujud sebuah karya agung senantiasa terkandung tesis, saintifik dan estetis sekaligus. Baca juga: Besok, UIN Jakarta Kembali Kukuhkan Dua Guru Besar
“Kita bisa meminjam pikiran Iqbal tentang Ego, sebagai Asrar-i-Khudî dan mengambil inspirasi dari konsep Théodicée Leibniz, bahwa manusia hidup di dunia sebaik mungkin karena manusia dan dunia ini diciptakan oleh Tuhan yang Maha Sempurna pula," kata Ahmad Syahid dalam orasinya seperti dikutip dari laman resmi uinjkt.ac.id, Kamis (14/1/2021).
Pandangan Leibniz, menurut Syahid, mirip dengan pandangan teologis Ma’bad al-Juhanni di Bashrah, Irak, para pendiri firqah qadariyah yang berkembang pada abad ke-7.
“Kita dapat membangun kehidupan peradaban manusia seindah, sebaik, sebijak, dan sesubur seperti yang kita inginkan dalam rangka mendekat, bahkan kembali, kepada Tuhan,” katanya.
(mpw)
Lihat Juga :