Ciptakan Energi Listrik Terbarukan, Mahasiswa ITS Raih Emas di I2ASPO
Minggu, 07 Februari 2021 - 14:18 WIB
Fatah menjelaskan, sekam padi pada awalnya diolah menggunakan NaOH guna mendegradasi lignin dan alat penggiling guna memperluas permukaan kontak pada sekam padi. Sekam padi lalu dihidrolisis dengan 2 mikroorganisme yaitu Trichoderma reesei dan Aspergillus niger. Hal ini berguna untuk mengonversi kandungan selulosa pada sekam padi agar menjadi glukosa.
Fatah melanjutkan, sekam padi hasil pengolahan awal tersebut difermentasikan menggunakan bakteri anaerob yaitu Clostridium Butyricum. Bakteri tersebut dipilih karena memiliki kemampuan untuk memproduksi hidrogen. ‘’Gas hidrogen ini kemudian diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan fuel cell,’’ katanya melalui siaran pers, Jumat (5/2).
Baca juga: Keren, Dosen ITS Ciptakan Robot Hybrid Bantu Dokter dalam Operasi Tulang
Alumnus SMA Negeri 12 Surabaya ini memaparkan, alat tersebut dibuat guna menjawab permintaan energi di Indonesia yang akan melejit beberapa tahun lagi. Mereka memprediksi sekitar 29 % penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) akan terjadi pada tahun 2050. ‘’Berdasarkan angka tersebut, sudah seharusnya Indonesia mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan,” katanya
Fatah melanjutkan, Antasena Biohidrogen Electric Generator ini juga dapat menjadi investasi menguntungkan dari segi ekonomi. Berdasarkan analisa yang dilakukan, alat ini memiliki nilai pendapatan yang sama besar dengan modal yang dikeluarkan. “Hal ini membuat tidak adanya kerugian atau keuntungan selama 2 tahun, 9 bulan, 20 hari dalam penggunaannya,” ujarnya.
Fatah melanjutkan, sekam padi hasil pengolahan awal tersebut difermentasikan menggunakan bakteri anaerob yaitu Clostridium Butyricum. Bakteri tersebut dipilih karena memiliki kemampuan untuk memproduksi hidrogen. ‘’Gas hidrogen ini kemudian diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan fuel cell,’’ katanya melalui siaran pers, Jumat (5/2).
Baca juga: Keren, Dosen ITS Ciptakan Robot Hybrid Bantu Dokter dalam Operasi Tulang
Alumnus SMA Negeri 12 Surabaya ini memaparkan, alat tersebut dibuat guna menjawab permintaan energi di Indonesia yang akan melejit beberapa tahun lagi. Mereka memprediksi sekitar 29 % penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) akan terjadi pada tahun 2050. ‘’Berdasarkan angka tersebut, sudah seharusnya Indonesia mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan,” katanya
Fatah melanjutkan, Antasena Biohidrogen Electric Generator ini juga dapat menjadi investasi menguntungkan dari segi ekonomi. Berdasarkan analisa yang dilakukan, alat ini memiliki nilai pendapatan yang sama besar dengan modal yang dikeluarkan. “Hal ini membuat tidak adanya kerugian atau keuntungan selama 2 tahun, 9 bulan, 20 hari dalam penggunaannya,” ujarnya.
Lihat Juga :