Desain Shelter Bencana, Mahasiswa FTUI Juara Kompetisi Arsitektur Internasional
Sabtu, 15 Januari 2022 - 05:39 WIB
Tim FTUI yang berkompetisi di ajang tersebut terdiri dari Ariq Dhia Athallah, Gusti Ayu Putu Nadya, Nadya Fatin Nur Rahma Sultan, dibimbing oleh dosen Departemen Arsitektur FTUI dan arsitek profesional, yaitu Ir. Evawani Ellisa, Baiq Lisa Wahyulina dan Farrell Jeremiah.
Baca juga: IPB University Sabet 7 Penghargaan di Anugerah Diktiristek 2021
Tim ini berhasil meraih juara 1 sayembara arsitektur berskala internasional ‘Disaster Relief Shelter’, untuk kategori mitigasi bencana kota-kota di India.
Evawani Ellisa yang dikenal sebagai pakar perancangan kota memaparkan, meskipun desain shelter Narana dilombakan untuk penyediaan shelter bencana di kota-kota India, akan tetapi desain ini juga sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.
”Selain kesamaan iklim, masyarakat India dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal eratnya identifikasi individu terhadap budaya lokal. Untuk penggunaan di Indonesia, kain saree dapat digantikan dengan kain batik nusantara, yang juga merupakan salah satu identitas kebanggaan masyarakat Indonesia,” katanya melalui siaran pers, Kamis (13/1/2022).
Ariq menjelaskan, shelter yang tidak memperhatikan kearifan lokal, justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi para korban bencana. Kesepian dan rasa putus asa, dapat timbul pada korban bencana alam, yang merasa terputus dari identitas mereka sebagai bagian dari suatu komunitas.
Baca juga: IPB University Sabet 7 Penghargaan di Anugerah Diktiristek 2021
Tim ini berhasil meraih juara 1 sayembara arsitektur berskala internasional ‘Disaster Relief Shelter’, untuk kategori mitigasi bencana kota-kota di India.
Evawani Ellisa yang dikenal sebagai pakar perancangan kota memaparkan, meskipun desain shelter Narana dilombakan untuk penyediaan shelter bencana di kota-kota India, akan tetapi desain ini juga sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.
”Selain kesamaan iklim, masyarakat India dan Indonesia memiliki kesamaan dalam hal eratnya identifikasi individu terhadap budaya lokal. Untuk penggunaan di Indonesia, kain saree dapat digantikan dengan kain batik nusantara, yang juga merupakan salah satu identitas kebanggaan masyarakat Indonesia,” katanya melalui siaran pers, Kamis (13/1/2022).
Ariq menjelaskan, shelter yang tidak memperhatikan kearifan lokal, justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi para korban bencana. Kesepian dan rasa putus asa, dapat timbul pada korban bencana alam, yang merasa terputus dari identitas mereka sebagai bagian dari suatu komunitas.
Lihat Juga :