Perjuangan Mahasiswi UNY, Putri Sopir Bus Malam yang Lulus Cumlaude dan Raih IPK 3,82
Senin, 14 Maret 2022 - 10:36 WIB
Selama di SMP Nike mendapat bantuan BOS sehingga SPP gratis sampai lulus. Hal ini membuat bangga orang tuanya. Saat SMA, warga Perum Bagongan Asri, Sukorejo, Mertoyudan, Magelang tersebut masuk jurusan IPA namun kurang cocok karena membutuhkan les di luar sekolah tetapi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.
“Akhirnya di kelas 2 saya memberanikan diri pindah ke IPS dan pilihan ini tidak salah karena saya suka dengan pelajaran IPS terutama akuntansi” ujarnya.
Nilainya naik bahkan masuk rangking atas, sampai di kelas 3 mulai memasuki masa-masa ujian akhir. Dia mengaku hingga kelas 3 dia tidak pernah ikut les/bimbel, tidak punya akses internet di rumah sehingga selama sekolah Nike hanya bisa mengandalkan buku pelajaran dan guru.
Keterbatasan itu pula yang membuatnya tidak memiliki pengetahuan tentang seleksi masuk perguruan tinggi. Nike mengikuti SNMPTN namun gugur karena pindah jurusan. Ikut SBMPTN juga gagal karena ketidaktahuan materi tes yang tidak diajarkan di sekolah sehingga hanya belajar materi SBMPTN dari 1 buku latihan yang dibelikan orang tuanya.
Secara tidak sengaja Nike mengetahui UNY masih membuka program Seleksi Mandiri dan memberanikan diri mendaftar dengan memilih pendidikan akuntansi sebagai pilihan pertama dan akuntansi sebagai pilihan kedua. Nike memang menyukai akuntansi dan cita-citanya sedari kecil ingin menjadi guru yang memberi ilmu tanpa pilih kasih.
Nike hanya mengandalkan latihan soal dari buku SBMPTN yang lalu karena tidak tega kalau minta dibelikan lagi. Keberuntungan berpihak pada Nike, dia diterima di UNY pada pilihan 1 dan mendapatkan UKT rendah. Kegembiraan diterima di perguruan tinggi favorit bertambah setelah UNY mengundangnya untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi.
Gadis kelahiran Magelang 5 September 1999 itu memaparkan selama perkuliahan dia berusaha mengikuti mata kuliah sebaik mungkin mengingat usaha orang tuanya sangat besar untuk bisa mengkuliahkannya.
Namun ternyata pandemi covid melanda sehingga ayahnya tidak bekerja dalam waktu yang lama. Ibunya mulai berjualan nasi goreng, kue kering, dan nasi kotak untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak itu hingga sekarang Nike dan adik semata wayangnya membantu ibu berjualan.
“Akhirnya di kelas 2 saya memberanikan diri pindah ke IPS dan pilihan ini tidak salah karena saya suka dengan pelajaran IPS terutama akuntansi” ujarnya.
Nilainya naik bahkan masuk rangking atas, sampai di kelas 3 mulai memasuki masa-masa ujian akhir. Dia mengaku hingga kelas 3 dia tidak pernah ikut les/bimbel, tidak punya akses internet di rumah sehingga selama sekolah Nike hanya bisa mengandalkan buku pelajaran dan guru.
Keterbatasan itu pula yang membuatnya tidak memiliki pengetahuan tentang seleksi masuk perguruan tinggi. Nike mengikuti SNMPTN namun gugur karena pindah jurusan. Ikut SBMPTN juga gagal karena ketidaktahuan materi tes yang tidak diajarkan di sekolah sehingga hanya belajar materi SBMPTN dari 1 buku latihan yang dibelikan orang tuanya.
Secara tidak sengaja Nike mengetahui UNY masih membuka program Seleksi Mandiri dan memberanikan diri mendaftar dengan memilih pendidikan akuntansi sebagai pilihan pertama dan akuntansi sebagai pilihan kedua. Nike memang menyukai akuntansi dan cita-citanya sedari kecil ingin menjadi guru yang memberi ilmu tanpa pilih kasih.
Nike hanya mengandalkan latihan soal dari buku SBMPTN yang lalu karena tidak tega kalau minta dibelikan lagi. Keberuntungan berpihak pada Nike, dia diterima di UNY pada pilihan 1 dan mendapatkan UKT rendah. Kegembiraan diterima di perguruan tinggi favorit bertambah setelah UNY mengundangnya untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi.
Gadis kelahiran Magelang 5 September 1999 itu memaparkan selama perkuliahan dia berusaha mengikuti mata kuliah sebaik mungkin mengingat usaha orang tuanya sangat besar untuk bisa mengkuliahkannya.
Namun ternyata pandemi covid melanda sehingga ayahnya tidak bekerja dalam waktu yang lama. Ibunya mulai berjualan nasi goreng, kue kering, dan nasi kotak untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak itu hingga sekarang Nike dan adik semata wayangnya membantu ibu berjualan.
Lihat Juga :