Seminar Pancasila di Unhan, Terungkap Peran Penting Lembaga Pendidikan
Rabu, 29 Juni 2022 - 21:58 WIB
Baca juga: 10 Strategi Sukses Lolos Ujian Mandiri di Perguruan Tinggi Negeri Favorit
Menurut dia, banyak keunggulannya dari Pancasila. Pada sila pertama jelas unggul dari Atheisme, Komunisme, Animisme, Sekularisme, Materialisme. Kemudian sila kedua unggul dari Fasisme, Radikalisme, Ekstrimisme.
Sila ketiga unggul dari Feodalisme, Primordialisme, Rasialisme. Sila Keempat, unggul dari Totalitarianisme, Otoritarianisme. Dan sila kelima unggul dari Liberalisme, Kapitalisme.
Demi membuat Pancasila semakin berperan penting, maka lembaga pendidikan berperan penting. Tingginya kualitas pendidikan nasional mendorong terbentuknya ketahanan nasional yang kokoh menghadapi serangan dari luar. Baik serangan ideologi, serangan ekonomi, serangan budaya maupun serangan fisik.
Pertentangan suku/etnis, pertentangan agama, pertentangan ras, dan pertentangan golongan, membelenggu terwujudnya ketahanan sosial-budaya berakibat rendahnya nasionalisme dan patriotisme.
“Pendidikan pada semua strata harus mengajarkan nilai-nilai kebajikan memahami perbedaan suku/etnis, agama, ras, dan golongan bukan untuk dipertentangkan. Berbeda keyakinan tidak berarti bermusuhan,” jelas Amarulla.
Karena itu, dia berharap lembaga pendidikan harus aktif memantau proses regulasi dan kebijakan pemerintah yang dapat mendorong kemajuan cara berpikir masyarakat yang terstruktur dan sistematis.
Menurut dia, banyak keunggulannya dari Pancasila. Pada sila pertama jelas unggul dari Atheisme, Komunisme, Animisme, Sekularisme, Materialisme. Kemudian sila kedua unggul dari Fasisme, Radikalisme, Ekstrimisme.
Sila ketiga unggul dari Feodalisme, Primordialisme, Rasialisme. Sila Keempat, unggul dari Totalitarianisme, Otoritarianisme. Dan sila kelima unggul dari Liberalisme, Kapitalisme.
Demi membuat Pancasila semakin berperan penting, maka lembaga pendidikan berperan penting. Tingginya kualitas pendidikan nasional mendorong terbentuknya ketahanan nasional yang kokoh menghadapi serangan dari luar. Baik serangan ideologi, serangan ekonomi, serangan budaya maupun serangan fisik.
Pertentangan suku/etnis, pertentangan agama, pertentangan ras, dan pertentangan golongan, membelenggu terwujudnya ketahanan sosial-budaya berakibat rendahnya nasionalisme dan patriotisme.
“Pendidikan pada semua strata harus mengajarkan nilai-nilai kebajikan memahami perbedaan suku/etnis, agama, ras, dan golongan bukan untuk dipertentangkan. Berbeda keyakinan tidak berarti bermusuhan,” jelas Amarulla.
Karena itu, dia berharap lembaga pendidikan harus aktif memantau proses regulasi dan kebijakan pemerintah yang dapat mendorong kemajuan cara berpikir masyarakat yang terstruktur dan sistematis.
Lihat Juga :