Wisudawan Tertua ITS Lulus di Usia 63 Tahun, Ini Sosoknya
Selasa, 27 September 2022 - 16:51 WIB
“Hal ini pun tak lepas dari peran Prof Yulinah, salah satu guru besar yang kerap mendorong saya,” tutur sosok kelahiran Rembang 1959 ini, melalui siaran pers, Selasa (27/9/2022).
Bagi Adit, menjalani pendidikan doktoral dengan kondisi fisik yang tak sebugar dulu menjadi tantangan yang luar biasa, bahkan pernah hampir membuatnya menyerah. Ia berujar, terkadang cukup sulit untuk dapat membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan yang tak sedikit. “Namun kebersamaan dengan mahasiswa doktoral lainnya membuat tugas yang dikerjakan terasa lebih ringan, kami juga sering belajar bersama,” ujarnya tersenyum.
Tak hanya persoalan waktu, bapak dua anak ini juga pernah terkendala dengan tuntutan untuk menghasilkan publikasi ilmiah internasional yang kelak dijadikan disertasi. “Publikasi ini sangat menantang bagi saya. “Diperlukan ketekunan, kecermatan, dan kemampuan untuk menulis bahasa Inggris yang benar,” ungkapnya.
Namun dukungan sang istri serta para pembimbing, Alm Prof Dr Ir Nadjadji Anwar, Ir I Putu Artama Wiguna, serta Prof Erma Suryani membuat Adit terus berjuang meski telah mengalami empat kali penolakan publikasi. Mengangkat topik disertasi tentang konstruksi berkelanjutan, pada awal 2022 akhirnya ia pun berhasil menerbitkan dua publikasi internasional sekaligus.
Baca juga: Mau Masuk Kampus Terbaik di Amerika dan Inggris? Cek Syarat yang Diperlukan
Bagi Adit, menjalani pendidikan doktoral dengan kondisi fisik yang tak sebugar dulu menjadi tantangan yang luar biasa, bahkan pernah hampir membuatnya menyerah. Ia berujar, terkadang cukup sulit untuk dapat membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan yang tak sedikit. “Namun kebersamaan dengan mahasiswa doktoral lainnya membuat tugas yang dikerjakan terasa lebih ringan, kami juga sering belajar bersama,” ujarnya tersenyum.
Tak hanya persoalan waktu, bapak dua anak ini juga pernah terkendala dengan tuntutan untuk menghasilkan publikasi ilmiah internasional yang kelak dijadikan disertasi. “Publikasi ini sangat menantang bagi saya. “Diperlukan ketekunan, kecermatan, dan kemampuan untuk menulis bahasa Inggris yang benar,” ungkapnya.
Namun dukungan sang istri serta para pembimbing, Alm Prof Dr Ir Nadjadji Anwar, Ir I Putu Artama Wiguna, serta Prof Erma Suryani membuat Adit terus berjuang meski telah mengalami empat kali penolakan publikasi. Mengangkat topik disertasi tentang konstruksi berkelanjutan, pada awal 2022 akhirnya ia pun berhasil menerbitkan dua publikasi internasional sekaligus.
Baca juga: Mau Masuk Kampus Terbaik di Amerika dan Inggris? Cek Syarat yang Diperlukan
Lihat Juga :