Tahun Ajaran Baru dengan Suasana Baru
Sabtu, 04 Juli 2020 - 09:32 WIB
Maka untuk tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli, Kemendikbud melalui Pusat Kurikulum menyiapkan kompetensi dasar (KD) yang tidak berat bagi guru untuk melaksanakan pengajaran. Misalnya untuk kelas 3 SD terdapat 26 KD, setelah dipilih yang paling esensial menjadi hanya 16 KD.
"Selain itu kami menyiapkan modul pembelajaran yang dapat dipakai oleh siswa secara mandiri. Memang tidak sama dengan buku pelajaran, tapi ini lebih ringkas sepanjang anak sudah bisa membaca," papar Hamid.
Selain modul, media untuk para siswa belajar mandiri adalah melalui video yang disiapkan untuk pelajaran yang membutuhkan praktik secara langsung. Video tersebut dapat langsung diakses di website atau Youtube.
Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan, DPR selalu menyampaikan kepada pihak sekolah untuk tidak fokus pada kurikulum. Guru juga diminta tidak memberikan tugas-tugas yang terlalu berat agar tidak menjadi beban mental anak. (Baca juga: UI Usulkan Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka)
"Karena sekarang yang lebih penting anak-anak sehat, selamat, dan bahagia. Tidak malah imunitasnya turun karena banyak tugas. Lebih baik sekarang pembelajaran di rumah dioptimalkan dengan bervariasi semacam soft skill atau life skill," ungkapnya.
Guru dapat membuat kreativitas sendiri untuk dapat memberikan pengajaran sesuai dengan usia mereka mengenai kehidupan sehari-hari. Misalnya membantu orang tua, menjaga kesehatan selama pandemi, berkebun, berwirausaha.
Hetifah berharap, saat memasuki tahun ajaran baru ini sekolah lebih mencari cara terbaik untuk sistem belajar anak-anak di rumah. Dia menyebut pemanfaatan perpustakaan nasional atau daerah bisa menjadi sarana untuk memaksimalkan itu. Anak lebih didekatkan dengan buku bukan hanya terpacu pada buku pelajaran.
"Pembahasan juga sudah ada di TVRI dan Youtube dari Kemendikbud. Banyak cara lain yang dapat dilakukan oleh guru," jelasnya. (Baca juga: Para Camat di Surabaya, Belajarlah Cara Menekan Covid-19 ke Tandes)
"Selain itu kami menyiapkan modul pembelajaran yang dapat dipakai oleh siswa secara mandiri. Memang tidak sama dengan buku pelajaran, tapi ini lebih ringkas sepanjang anak sudah bisa membaca," papar Hamid.
Selain modul, media untuk para siswa belajar mandiri adalah melalui video yang disiapkan untuk pelajaran yang membutuhkan praktik secara langsung. Video tersebut dapat langsung diakses di website atau Youtube.
Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan, DPR selalu menyampaikan kepada pihak sekolah untuk tidak fokus pada kurikulum. Guru juga diminta tidak memberikan tugas-tugas yang terlalu berat agar tidak menjadi beban mental anak. (Baca juga: UI Usulkan Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka)
"Karena sekarang yang lebih penting anak-anak sehat, selamat, dan bahagia. Tidak malah imunitasnya turun karena banyak tugas. Lebih baik sekarang pembelajaran di rumah dioptimalkan dengan bervariasi semacam soft skill atau life skill," ungkapnya.
Guru dapat membuat kreativitas sendiri untuk dapat memberikan pengajaran sesuai dengan usia mereka mengenai kehidupan sehari-hari. Misalnya membantu orang tua, menjaga kesehatan selama pandemi, berkebun, berwirausaha.
Hetifah berharap, saat memasuki tahun ajaran baru ini sekolah lebih mencari cara terbaik untuk sistem belajar anak-anak di rumah. Dia menyebut pemanfaatan perpustakaan nasional atau daerah bisa menjadi sarana untuk memaksimalkan itu. Anak lebih didekatkan dengan buku bukan hanya terpacu pada buku pelajaran.
"Pembahasan juga sudah ada di TVRI dan Youtube dari Kemendikbud. Banyak cara lain yang dapat dilakukan oleh guru," jelasnya. (Baca juga: Para Camat di Surabaya, Belajarlah Cara Menekan Covid-19 ke Tandes)
Lihat Juga :