Kemenparekraf dan Kemendikbudristek Dapat Penghargaan dari UI
Kamis, 12 Januari 2023 - 09:51 WIB
Program ini bertujuan melakukan identifikasi risiko CHSE dan bencana serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di desa wisata melalui penerapan karya rekacipta dosen, alumni, dan mahasiswa bersama Kemenparekraf. Kegiatan yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini dapat dikonversi ke 20 satuan kredit semester (SKS) bagi mahasiswa yang mengikutinya.
Program Kedaireka UI–Kemenparekraf telah terlaksana dengan baik. Hal ini terbukti dari identifikasi risiko CHSE dan mitigasi bencana yang telah dilaksanakan di 58 desa wisata. Kegiatan verifikasi lapangan pelatihan CHSE dan mitigasi bencana juga telah dilakukan di delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan analisis dampak bencana di lima lokasi pariwisata, serta implementasi manajemen krisis dan tata kelola destinasi di beberapa daerah. Selain itu, saat ini sudah tersedia 20 modul dan 20 video e-learning di platform Edurisk. UI dan Kemenparekraf juga telah meluncurkan Sistem Informasi Desa Wisata (SideWita), Panic Button DeWita, dan VTTX DeWita yang dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.
“Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendukung percepatan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini karena pariwisata mendorong masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke daerah-daerah lain. Desa Wisata yang gerakkan oleh UI dan Kemenparekraf diharapkan dapat menjadi roda penggerak ekonomi dan pemulihan aktivitas pariwisata pasca pandemi. Program Kedaireka dari Kemendikbudristek mewujudkan kemudahan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra dalam satu platform,” ujarnya.
Sandiaga menuturkan, peningkatan mobilitas masyarakat terjadi karena tepatnya penanganan pandemi di Indonesia. Pada 2022, pariwisata Indonesia telah mencapai pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Meski demikian, potensi pariwisata di Indonesia berbanding lurus dengan nature dan culture. Indonesia memiliki pariwisata yang indah sekaligus potensi kebencanaan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi dan solusi konkret yang bisa dikolaborasikan bersama.
Program Kedaireka UI–Kemenparekraf telah terlaksana dengan baik. Hal ini terbukti dari identifikasi risiko CHSE dan mitigasi bencana yang telah dilaksanakan di 58 desa wisata. Kegiatan verifikasi lapangan pelatihan CHSE dan mitigasi bencana juga telah dilakukan di delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan analisis dampak bencana di lima lokasi pariwisata, serta implementasi manajemen krisis dan tata kelola destinasi di beberapa daerah. Selain itu, saat ini sudah tersedia 20 modul dan 20 video e-learning di platform Edurisk. UI dan Kemenparekraf juga telah meluncurkan Sistem Informasi Desa Wisata (SideWita), Panic Button DeWita, dan VTTX DeWita yang dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.
“Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendukung percepatan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini karena pariwisata mendorong masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke daerah-daerah lain. Desa Wisata yang gerakkan oleh UI dan Kemenparekraf diharapkan dapat menjadi roda penggerak ekonomi dan pemulihan aktivitas pariwisata pasca pandemi. Program Kedaireka dari Kemendikbudristek mewujudkan kemudahan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra dalam satu platform,” ujarnya.
Sandiaga menuturkan, peningkatan mobilitas masyarakat terjadi karena tepatnya penanganan pandemi di Indonesia. Pada 2022, pariwisata Indonesia telah mencapai pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Meski demikian, potensi pariwisata di Indonesia berbanding lurus dengan nature dan culture. Indonesia memiliki pariwisata yang indah sekaligus potensi kebencanaan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi dan solusi konkret yang bisa dikolaborasikan bersama.
Lihat Juga :