Pendidikan Vokasi Tak Banyak Diminati Orang Tua Siswa, Ini Penyebabnya
Jum'at, 24 Februari 2023 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pendaftar SNPDB Madrasah Unggulan Capai 29.237 Siswa, Perebutkan 3 Ribu Kursi
“Di bidang perguruan tinggi, hal yang sama juga terjadi. Selain itu juga tidak ada link and match antara kebutuhan skill di pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri dan dunia kerja,” tukasnya.
Perkembangan dunia industri terjadi sangat cepat. Sedangkan, sarana dan prasarana di dunia pendidikan tidak berkembang dengan cepat. Di dunia industri, terjadi perkembangan mulai dari 3.0 kemudian 4.0 bahkan sudah masuk otomatisasi, robotisasi dan virtual engine.
Namun sarpras di dunia pendidikan masih stagnan. “Industri lebih cepat berkembang ketimbang dunia pendidikan vokasi. Pendidikannya masih disitu, industrinya berkembang,” ungkapnya.
Kendala lain adalah tenaga pelatih di vokasi sulit mengembangkan karier karena mereka harus bersertifikasi industri dan pengembangan sarjananya harus S3. Sementara saat ini, rata-rata tenaga pelatih baru S2 dan S1.
Kemudian juga soal daya serap industri pun tidak sebanding dengan jumlah lulusan. Kalau lihat database tiap tahun ada 1,8 juta lulusan perguruan tinggi diploma dan sarjana. Jadi daya serap dunia usaha dan industri rata-rata hanya 300-400 ribu, sisanya rata-rata tidak sesuai dengan kompetensi.
“Di bidang perguruan tinggi, hal yang sama juga terjadi. Selain itu juga tidak ada link and match antara kebutuhan skill di pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri dan dunia kerja,” tukasnya.
Perkembangan dunia industri terjadi sangat cepat. Sedangkan, sarana dan prasarana di dunia pendidikan tidak berkembang dengan cepat. Di dunia industri, terjadi perkembangan mulai dari 3.0 kemudian 4.0 bahkan sudah masuk otomatisasi, robotisasi dan virtual engine.
Namun sarpras di dunia pendidikan masih stagnan. “Industri lebih cepat berkembang ketimbang dunia pendidikan vokasi. Pendidikannya masih disitu, industrinya berkembang,” ungkapnya.
Kendala lain adalah tenaga pelatih di vokasi sulit mengembangkan karier karena mereka harus bersertifikasi industri dan pengembangan sarjananya harus S3. Sementara saat ini, rata-rata tenaga pelatih baru S2 dan S1.
Kemudian juga soal daya serap industri pun tidak sebanding dengan jumlah lulusan. Kalau lihat database tiap tahun ada 1,8 juta lulusan perguruan tinggi diploma dan sarjana. Jadi daya serap dunia usaha dan industri rata-rata hanya 300-400 ribu, sisanya rata-rata tidak sesuai dengan kompetensi.
Lihat Juga :