Jamin Keadilan Akses Sekolah Online
Rabu, 22 Juli 2020 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar 20 hingga 25 siswa setiap harinya memanfaatkan fasilitas Wi-Fi gratis ini untuk mengunduh materi-materi pelajaran yang diunggah sekolah secara daring. Mengingat keterbatasan tempat di balai banjar, penggunaan Wi-Fi tersebut dilakukan secara bergantian agar semua siswa di Banjar Petangan Gede bisa menggunakan fasilitas gratis itu. "Pengurus banjar bergotong-royong menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis ini," ujarnya.
Kegotongroyongan serupa juga dilakukan warga Arjosari, Balang, Jawa Timur, dan Jalan Tani Asli, Sunggal, Deli Serdang, Sumatera Utara. Warga setempat memasang jaringan internet gratis di poskamling untuk membantu pelajar mengikuti sekolah online. (Baca juga: 25% Pelajar di Jateng Tak Miliki Akses Layanan Pendidikan Daring)
Taufik, warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, juga menyediakan Wi-Fi gratis di rumahnya agar anak-anak tetangganya bisa sekolah online tanpa terbebani pembelian kuota internet. Taufik berharap pemerintah segera membuat kebijakan yang bisa memberikan kesetaraan dan keadilan akses pendidikan, khususnya saat era pandemi ini.
Tak mengherankan jika banyaknya persoalan di tengah pelaksanaan PJJ ini membuat sebagian masyarakat ingin kembali dibuka model pembelajaran tatap muka langsung. Hal ini setidaknya tergambar dari hasil survei Alvara yang dipublikasikan pada 12 Juli lalu. Dari survei itu terungkap ada 45,5% responden yang menginginkan anaknya bersekolah lagi secara langsung. "Dua dari lima orang setuju jika anak sekolah masuk kembali setelah new normal diberlakukan," ujar CEO Alvara Hasanuddin Ali.
Selain masalah kuota internet, berbagai alasan orang tua setuju anak mereka kembali masuk sekolah lantaran saat di rumah anak justru tidak belajar. Selain itu, belajar di rumah membuat anak bosan dan susah belajar. Masalah lainnya, anak menjadi sering bermain dan orang tua tidak memiliki teknik mengajar yang baik di rumah. Lebih-lebih ketika banyak orang tua mulai bekerja lagi di luar rumah, PJJ menjadi makin kompleks.
Survei dari Wahana Visi Indonesia juga mengungkapkan, 32% anak kesulitan mendapatkan program belajar dalam bentuk apa pun selama masa pandemi. Inilah yang menyebabkan siswa dipaksa harus belajar sendiri. "Dan itu menimbulkan dampak 37% anak tidak bisa mengatur waktu belajar, 30% kesulitan memahami pelajaran, bahkan 27% tidak memahami instruksi guru berdasarkan belajar," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Fidiansjah. (Baca juga: Begini Syarat Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka di Bekasi)
Kegotongroyongan serupa juga dilakukan warga Arjosari, Balang, Jawa Timur, dan Jalan Tani Asli, Sunggal, Deli Serdang, Sumatera Utara. Warga setempat memasang jaringan internet gratis di poskamling untuk membantu pelajar mengikuti sekolah online. (Baca juga: 25% Pelajar di Jateng Tak Miliki Akses Layanan Pendidikan Daring)
Taufik, warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, juga menyediakan Wi-Fi gratis di rumahnya agar anak-anak tetangganya bisa sekolah online tanpa terbebani pembelian kuota internet. Taufik berharap pemerintah segera membuat kebijakan yang bisa memberikan kesetaraan dan keadilan akses pendidikan, khususnya saat era pandemi ini.
Tak mengherankan jika banyaknya persoalan di tengah pelaksanaan PJJ ini membuat sebagian masyarakat ingin kembali dibuka model pembelajaran tatap muka langsung. Hal ini setidaknya tergambar dari hasil survei Alvara yang dipublikasikan pada 12 Juli lalu. Dari survei itu terungkap ada 45,5% responden yang menginginkan anaknya bersekolah lagi secara langsung. "Dua dari lima orang setuju jika anak sekolah masuk kembali setelah new normal diberlakukan," ujar CEO Alvara Hasanuddin Ali.
Selain masalah kuota internet, berbagai alasan orang tua setuju anak mereka kembali masuk sekolah lantaran saat di rumah anak justru tidak belajar. Selain itu, belajar di rumah membuat anak bosan dan susah belajar. Masalah lainnya, anak menjadi sering bermain dan orang tua tidak memiliki teknik mengajar yang baik di rumah. Lebih-lebih ketika banyak orang tua mulai bekerja lagi di luar rumah, PJJ menjadi makin kompleks.
Survei dari Wahana Visi Indonesia juga mengungkapkan, 32% anak kesulitan mendapatkan program belajar dalam bentuk apa pun selama masa pandemi. Inilah yang menyebabkan siswa dipaksa harus belajar sendiri. "Dan itu menimbulkan dampak 37% anak tidak bisa mengatur waktu belajar, 30% kesulitan memahami pelajaran, bahkan 27% tidak memahami instruksi guru berdasarkan belajar," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Fidiansjah. (Baca juga: Begini Syarat Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka di Bekasi)
Lihat Juga :