Akses Internet Masih Jadi Kendala Dunia Pendidikan Indonesia
Jum'at, 12 Mei 2023 - 18:11 WIB
loading...
A
A
A
"Misalnya mungkin dengan Kemenkominfo, kemudian ada listrik di daerah-daerah yang tidak ada listrik, nanti dengan kementerian ESDM. Untuk memastikan spot-spot itu menjadi perhatian mereka supaya pemerintah secara bersama-sama di semua lini dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi," lanjut dia.
Ditegaskannya, daerah-daerah tersebut sejatinya harus mendapat perhatian lebih, untuk sebuah program.
"Karena itu juga yang justru yang paling penting. Mereka yang di daerah tertinggal, kelompok miskin, tentunya yang tidak punya gawai untuk mengakses internet dalam sehari-hari, mereka itu justru butuh dibantu untuk lebih cepat terakselerasi meningkatkan hasil kinerja belajarnya," papar Suharti.
Terkait sosialisasi yang dianggap belum disampaikan secara, langsung, Suharti menjelaskan, selama ini pihaknya memang lebih sering menyampaikan lewat daring. Hal itu bertujuan untuk lebih mengefisiensikan waktu yang ada.
"Sosialisasi yang belum diterima secara langsung, memang biasa di masyarakat kita, sama juga di program-program lain, misalnya Program Indonesia Pintar (PIP), sering dikatakan bahwa kami belum mendapatkan sosialisasi langsung. Karena memang sosialisasi selama ini sifatnya online," ucapnya.
"Karena kalau secara langsung, bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang Kuta berikan seluruhnya. Untuk guru saja lebih dari 4 juta. Siswa 70 juta dari PAUD sampai pendidikan tinggi. Tapi ini memberikan masukan kepada kami, bahwa perlu mencari cara yang lebih baik lagi," pungkasnya.
Ditegaskannya, daerah-daerah tersebut sejatinya harus mendapat perhatian lebih, untuk sebuah program.
"Karena itu juga yang justru yang paling penting. Mereka yang di daerah tertinggal, kelompok miskin, tentunya yang tidak punya gawai untuk mengakses internet dalam sehari-hari, mereka itu justru butuh dibantu untuk lebih cepat terakselerasi meningkatkan hasil kinerja belajarnya," papar Suharti.
Terkait sosialisasi yang dianggap belum disampaikan secara, langsung, Suharti menjelaskan, selama ini pihaknya memang lebih sering menyampaikan lewat daring. Hal itu bertujuan untuk lebih mengefisiensikan waktu yang ada.
"Sosialisasi yang belum diterima secara langsung, memang biasa di masyarakat kita, sama juga di program-program lain, misalnya Program Indonesia Pintar (PIP), sering dikatakan bahwa kami belum mendapatkan sosialisasi langsung. Karena memang sosialisasi selama ini sifatnya online," ucapnya.
"Karena kalau secara langsung, bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang Kuta berikan seluruhnya. Untuk guru saja lebih dari 4 juta. Siswa 70 juta dari PAUD sampai pendidikan tinggi. Tapi ini memberikan masukan kepada kami, bahwa perlu mencari cara yang lebih baik lagi," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :