Apresiasi Karya Sastrawan, PBSI UIN Jakarta Gelar Persembahan untuk Arifin C Noer
Minggu, 11 Juni 2023 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Kedisiplinan tersebut juga dilihat Jose Rizal Manua yang kerap menjadi teman ngobrol Arifin ketika melakukan pementasan di TIM. “Arifin melahap banyak bacaan, hal tersebut membuat karya-karya Arifin mencerminkan jiwa nasionalisme yang kuat,” papar Jose dalam keterangan pers, Minggu (11/6/2023).
Hal tersebut juga diamini oleh Jamal D. Rahman, "Nasionalisme terpancar semua dalam naskah Arifin C. Noer dengan sangat jelas. Walaupun mungkin nasionalisme Arifin C. Noer dengan Mohammad Yamin itu berbeda," jelas penyair yang juga mantan Pimred Horison tersebut.
“Sebagai dramawan, naskah-naskah yang ditulis Arifin, meskipun berkonsep minimalis, tetap luar biasa dan penuh imajinasi” ungkap Dindon. Tak mengherankan jika karya-karya Arifin C. Noer menjadi naskah yang kerap dipentaskan dari zaman-ke zaman, penonton diajak tertawa, sekaligus berpikir.
Meski demikian, untuk menciptakan sebuah pertunjukan yang apik, Arifin menyukai aktor yang cekatan dan kreatif. “Mas Arifin paling nggak suka kalau dalam tim produksi teaternya ada yang malas. Kalau ada hal yang tidak sreg, akan dia cari sampai dapat. Jadi pemain pasti mengusahakan semaksimal mungkin” kenang Embie sambil tersenyum.
Sebagai pihak keluarga yang paling dekat, Embi mengenang ada pesan Arifin C. Noer kepadanya yang paling membekas, yakni tentang tiga tipe orang besar. "Embie, ternyata di dunia yang saya amati, ada tiga orang yang besar. Orang yang besar karena publikasi, orang yang besar karena sibuk mencatatkan diri dalam sejarah, dan orang yang besar karena banyak mencetak karya. Kamu harus menjadi orang yang besar karena mencetak karya.’’
Jajang C. Noer mengenang almarhum sang suami sebagai sosok yang hangat, baik hati, dan jujur. "Naskah-naskahnya semua jujur. Tidak ada yang dibikin-bikin. Apa yang ada di hatinya, maka itu dijadikan naskah," jelas Jajang. Tak hanya itu, Arifin juga suami yang terbuka dan mau menerima masukan darinya. "Begitu dia selesai nulis, saya membaca. Terkadang saya sok tau atau ingin beropini. Kalau dia nulis, saya pasti ikut tau semua film dan naskah sandiwaranya," kenangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Jajang mengucapkan terima kasih atas kegiatan Pestarama #8 yang ”menghidupkan kembali” gagasan dan semangat Arifin C. Noer. Hal senada juga diucapkan Embie C. Noer, kegiatan seperti ini adalah bentuk kegiatan apresiasi yang ideal.
Hal tersebut juga diamini oleh Jamal D. Rahman, "Nasionalisme terpancar semua dalam naskah Arifin C. Noer dengan sangat jelas. Walaupun mungkin nasionalisme Arifin C. Noer dengan Mohammad Yamin itu berbeda," jelas penyair yang juga mantan Pimred Horison tersebut.
“Sebagai dramawan, naskah-naskah yang ditulis Arifin, meskipun berkonsep minimalis, tetap luar biasa dan penuh imajinasi” ungkap Dindon. Tak mengherankan jika karya-karya Arifin C. Noer menjadi naskah yang kerap dipentaskan dari zaman-ke zaman, penonton diajak tertawa, sekaligus berpikir.
Meski demikian, untuk menciptakan sebuah pertunjukan yang apik, Arifin menyukai aktor yang cekatan dan kreatif. “Mas Arifin paling nggak suka kalau dalam tim produksi teaternya ada yang malas. Kalau ada hal yang tidak sreg, akan dia cari sampai dapat. Jadi pemain pasti mengusahakan semaksimal mungkin” kenang Embie sambil tersenyum.
Sebagai pihak keluarga yang paling dekat, Embi mengenang ada pesan Arifin C. Noer kepadanya yang paling membekas, yakni tentang tiga tipe orang besar. "Embie, ternyata di dunia yang saya amati, ada tiga orang yang besar. Orang yang besar karena publikasi, orang yang besar karena sibuk mencatatkan diri dalam sejarah, dan orang yang besar karena banyak mencetak karya. Kamu harus menjadi orang yang besar karena mencetak karya.’’
Jajang C. Noer mengenang almarhum sang suami sebagai sosok yang hangat, baik hati, dan jujur. "Naskah-naskahnya semua jujur. Tidak ada yang dibikin-bikin. Apa yang ada di hatinya, maka itu dijadikan naskah," jelas Jajang. Tak hanya itu, Arifin juga suami yang terbuka dan mau menerima masukan darinya. "Begitu dia selesai nulis, saya membaca. Terkadang saya sok tau atau ingin beropini. Kalau dia nulis, saya pasti ikut tau semua film dan naskah sandiwaranya," kenangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Jajang mengucapkan terima kasih atas kegiatan Pestarama #8 yang ”menghidupkan kembali” gagasan dan semangat Arifin C. Noer. Hal senada juga diucapkan Embie C. Noer, kegiatan seperti ini adalah bentuk kegiatan apresiasi yang ideal.
Lihat Juga :