Dikeluhkan Orang Tua, Segera Evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh
Minggu, 26 Juli 2020 - 15:21 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, anak-anak yang belajar di rumah sering sekali kurang tertib. Sebab, aturan yang selama ini diberlakukan di sekolah, tidak semuanya bisa dilaksanakan di rumah. Tidak jarang, anak-anak banyak yang belajar tidak fokus.
"Bagi yang punya smartphone dan komputer, sering juga disalahgunakan anak-anak. Di sela-sela proses belajar mengajar itu, mereka juga bermain game. Kalau dulu orang tua dinasihati untuk tidak memberi smartphone pada anak, sekarang ini orang tua malah dituntut untuk menyiapkannya. Ini sangat dilematis dan perlu dicarikan solusinya," ujar legislator asal Daerah Pemilihan Sumatera Utara II ini.
Ketiga, ada banyak pelajaran yang memerlukan praktikum dan juga praktik lapangan. Katakanlah, misalnya, pelajaran biologi, kimia, dan fisika. Pelajaran-pelajaran tersebut sering sekali harus dengan praktikum. Dengan belajar jarak jauh, praktikum itu akan terkendala. "Pelajaran olah ragajuga begitu. Kalau di sekolah, siswa-siswi kan juga bisa langsung berolahraga di lapangan. Guru langsung mengajari murid. Sekarang ini, olahraga tersebut tentu akan sulit diterapkan," ujarnya.
Dia melanjutkan, walaupun pola belajar mengajarnya seperti yang dijelaskannya tadi, tidak berpengaruh pada pembayaran SPP. Terutama anak-anak yang belajar di sekolah swasta. "Biaya yang dikeluarkan tetap sama. Padahal, proses belajar mengajar yang dilakukan sebagian besar sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Ini kan tentu tidak adil bagi para orang tua siswa," pungkasnya. (Baca juga: Keterbatasan Pendidikan Jarak Jauh Harus Didukung Data Valid ).
"Bagi yang punya smartphone dan komputer, sering juga disalahgunakan anak-anak. Di sela-sela proses belajar mengajar itu, mereka juga bermain game. Kalau dulu orang tua dinasihati untuk tidak memberi smartphone pada anak, sekarang ini orang tua malah dituntut untuk menyiapkannya. Ini sangat dilematis dan perlu dicarikan solusinya," ujar legislator asal Daerah Pemilihan Sumatera Utara II ini.
Ketiga, ada banyak pelajaran yang memerlukan praktikum dan juga praktik lapangan. Katakanlah, misalnya, pelajaran biologi, kimia, dan fisika. Pelajaran-pelajaran tersebut sering sekali harus dengan praktikum. Dengan belajar jarak jauh, praktikum itu akan terkendala. "Pelajaran olah ragajuga begitu. Kalau di sekolah, siswa-siswi kan juga bisa langsung berolahraga di lapangan. Guru langsung mengajari murid. Sekarang ini, olahraga tersebut tentu akan sulit diterapkan," ujarnya.
Dia melanjutkan, walaupun pola belajar mengajarnya seperti yang dijelaskannya tadi, tidak berpengaruh pada pembayaran SPP. Terutama anak-anak yang belajar di sekolah swasta. "Biaya yang dikeluarkan tetap sama. Padahal, proses belajar mengajar yang dilakukan sebagian besar sudah menjadi tanggung jawab orang tua. Ini kan tentu tidak adil bagi para orang tua siswa," pungkasnya. (Baca juga: Keterbatasan Pendidikan Jarak Jauh Harus Didukung Data Valid ).
(zik)
Lihat Juga :