11 Contoh Penulisan Kata yang Benar Menurut EYD KBBI, Susun Kalimat Dijamin Akurat
Senin, 28 Agustus 2023 - 11:15 WIB
loading...
Di Indonesia, aturan mengenai penggunaan kata sudah diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ini contoh penulisan kata yang benar menurut EYD KBBI . Untuk membuat kalimat yang baik, pemilihan kata dan bahasa sangat berperan penting. Bisa dibayangkan jika ketika memilih kata sudah salah, kalimat yang dihasilkan pasti juga tidak bagus.
Di Indonesia, aturan mengenai penggunaan kata sudah diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Berbagai macam cara penulisan kata, hingga kata baku dan tidak baku juga disebutkan pada KBBI sebagai referensi penulisan. Untuk menuliskan kata yang benar sesuai EYD KBBI, artikel kali ini akan membahasnya
Ada pula penjelasan mengenai arti kata dalam bahasa Indonesia, turunan kata, frase, serta informasi lainnya. KBBI dapat diakses secara online maupun melalui aplikasi sehingga lebih praktis.
Contoh:
1. Ruang kelas penuh sesak.
2. Ayah pergi ke kantor.
3. Kamus itu sangat berat.
Apabila ada imbuhan yang didapatkan dari unsur asing (-isme, -man, -wan, atau -wi), penulisannya serangkai dengan bentuk dasar.
Contoh:
1. Berlari
2. Berkesinambungan
3. Memperbaiki
4. Gemetar
5. Keinginan
Bentuk kata berimbuhan terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh:
1. Adibusana
2. Antarkota
3. Antibiotik
4. Biokimia
5. Demoralisasi
Apabila terdapat bentuk terikat yang diikuti kata dengan huruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
Contoh:
1. Anti-PKI
2. Non-Amerika
3. Non-ASEAN
4. Pan-Afrikanisme
5. Pro-Barat
Apabila terdapat bentuk maha yang diikuti kata turunan (mengacu pada nama atau sifat Tuhan) maka ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Contoh:
1. Kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Apabila bentuk maha diikuti kata dasar (mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa), maka ditulis serangkai.
Contoh:
1. Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
2. Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan banyak nikmat.
Contoh:
1. kupu-kupu
2. anak-anak
3. lauk-pauk
4. berlari-lari
5. mondar-mandir
Apabila ada bentuk ulang gabungan kata, penulisannya dilakukan dengan mengulang unsur pertama.
Contoh:
1. Kisah klasik: kisah-kisah klasik
2. Kursi tua: kursi-kursi tua
3. Bus malam cepat: bus-bus malam cepat
Pada kasus bentuk ulang yang memiliki huruf kapital, seperti pada nama lembaga, dokumen, atau judul buku, bentuk ulang sempurna diberi huruf kapital pada huruf pertama tiap unsurnya.
Bentuk ulang lain diberi huruf kapital hanya diberi pada huruf pertama unsur pertamanya.
Contoh:
1. Pembicara mempresentasikan hasil penelitian tentang “Aplikasi Asas-Asas Hukum Pidana”.
2. Seminar bertema “Terus-menerus Ramah-tamah” diadakan di tingkat RT.
Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk. Kata tersebut termasuk istilah khusus dan ditulis terpisah.
Contoh:
1. simpang lima
2. cendera mata
3. duta besar
4. model linear
5. kambing hitam
Apabila terdapat gabungan kata yang bisa menimbulkan salah pengertian, kata tersebut ditulis dengan memberikan tanda hubung (-)
Contoh:
1. anak-istri kolonel (anak dan istri dari kolonel)
2. anak istri-kolonel (anak dari istri kolonel)
3. ibu-ayah mereka (ibu dan ayah mereka)
4. ibu ayah-mereka (ibu dari ayah mereka)
Apabila terdapat gabungan kata yang penulisannya terpisah,maka penulisannya tetap terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.
Contoh:
1. bertepuk tangan
2. garis bawahi
Apabila terdapat gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya serangkai.
Di Indonesia, aturan mengenai penggunaan kata sudah diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Berbagai macam cara penulisan kata, hingga kata baku dan tidak baku juga disebutkan pada KBBI sebagai referensi penulisan. Untuk menuliskan kata yang benar sesuai EYD KBBI, artikel kali ini akan membahasnya
Penulisan Kata Berdasarkan EYD KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diatur berbagai macam penggunaan kata, mulai dari kata baku untuk percakapan formal, hingga kata tidak baku untuk percakapan sehari-hari.Ada pula penjelasan mengenai arti kata dalam bahasa Indonesia, turunan kata, frase, serta informasi lainnya. KBBI dapat diakses secara online maupun melalui aplikasi sehingga lebih praktis.
1. Penulisan Kata Dasar
Berdasarkan PUEBI, kata dasar ditulis sebagai satu rangkaian atau kesatuan.Contoh:
1. Ruang kelas penuh sesak.
2. Ayah pergi ke kantor.
3. Kamus itu sangat berat.
2. Penulisan Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran, ataupun awalan dan akhiran. Penulisan imbuhan dilakukan serangkai dengan bentuk dasarnya.Apabila ada imbuhan yang didapatkan dari unsur asing (-isme, -man, -wan, atau -wi), penulisannya serangkai dengan bentuk dasar.
Contoh:
1. Berlari
2. Berkesinambungan
3. Memperbaiki
4. Gemetar
5. Keinginan
Bentuk kata berimbuhan terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh:
1. Adibusana
2. Antarkota
3. Antibiotik
4. Biokimia
5. Demoralisasi
Apabila terdapat bentuk terikat yang diikuti kata dengan huruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
Contoh:
1. Anti-PKI
2. Non-Amerika
3. Non-ASEAN
4. Pan-Afrikanisme
5. Pro-Barat
Apabila terdapat bentuk maha yang diikuti kata turunan (mengacu pada nama atau sifat Tuhan) maka ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Contoh:
1. Kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Apabila bentuk maha diikuti kata dasar (mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa), maka ditulis serangkai.
Contoh:
1. Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
2. Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan banyak nikmat.
3. Penulisan Bentuk Ulang
Aturan penulisan kata ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.Contoh:
1. kupu-kupu
2. anak-anak
3. lauk-pauk
4. berlari-lari
5. mondar-mandir
Apabila ada bentuk ulang gabungan kata, penulisannya dilakukan dengan mengulang unsur pertama.
Contoh:
1. Kisah klasik: kisah-kisah klasik
2. Kursi tua: kursi-kursi tua
3. Bus malam cepat: bus-bus malam cepat
Pada kasus bentuk ulang yang memiliki huruf kapital, seperti pada nama lembaga, dokumen, atau judul buku, bentuk ulang sempurna diberi huruf kapital pada huruf pertama tiap unsurnya.
Bentuk ulang lain diberi huruf kapital hanya diberi pada huruf pertama unsur pertamanya.
Contoh:
1. Pembicara mempresentasikan hasil penelitian tentang “Aplikasi Asas-Asas Hukum Pidana”.
2. Seminar bertema “Terus-menerus Ramah-tamah” diadakan di tingkat RT.
4. Penulisan Gabungan Kata
Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk. Kata tersebut termasuk istilah khusus dan ditulis terpisah.
Contoh:
1. simpang lima
2. cendera mata
3. duta besar
4. model linear
5. kambing hitam
Apabila terdapat gabungan kata yang bisa menimbulkan salah pengertian, kata tersebut ditulis dengan memberikan tanda hubung (-)
Contoh:
1. anak-istri kolonel (anak dan istri dari kolonel)
2. anak istri-kolonel (anak dari istri kolonel)
3. ibu-ayah mereka (ibu dan ayah mereka)
4. ibu ayah-mereka (ibu dari ayah mereka)
Apabila terdapat gabungan kata yang penulisannya terpisah,maka penulisannya tetap terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.
Contoh:
1. bertepuk tangan
2. garis bawahi
Apabila terdapat gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya serangkai.
Lihat Juga :