Siswi MTsN 2 Sawahlunto Ciptakan Alat Sensor Gas Metana Berbasis IoT
Rabu, 06 September 2023 - 12:35 WIB
loading...
2 siswi MTsN 2 Kota Sawahlunto menciptakan alat sensor gas metana pada tambang batu bara berbasis IoT. Foto/Kemenag.
A
A
A
JAKARTA - Dua siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Sawahlunto membuat alar sensor gas metana berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini menjadi salah satu finalis Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) 2023 di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Kedua siswi tersebut adalah Bebrina Latif Azzahra dan Raisya Qurrata Aini. "Di Sawahlunto banyak tempat tambang, dan sering terjadi ledakan. Salah satunya, terjadi pada Desember 2022 lalu," kata Bebrina, dikutip dari laman Kemenag, Rabu (6/9/2023).
Sawahlunto, lokasi sekolah mereka yang terletak di Sumatra Barat memang dikenal lama sebagai Kota Tambang karena banyak pertambangan batubara yang beroperasi di kota tersebut.
Namun demikian, di Kota Sawahlunto juga kerap terjadi kecelakaan kerja akibat ledakan gas metan di pertambangan batu bara. Gas ini terbentuk secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalification). Gas yang keluar tanpa bau, warna, dan mudah terbakar ini kerap tak disadari oleh para pekerja tambang sehingga banyak menimbulkan kecelakaan.
Baca juga: Wakili Indonesia, Santri Malhikdua Brebes Raih Juara 2 Lomba Debat Bahasa Arab di Qatar
“Kami mencari solusi bagaimana saat kadar gas metana terdeteksi melampaui batas akan memberikan peringatan kepada pekerja di tambang sehingga bisa menghindari terjadinya musibah ledakan dan adanya korban jiwa," terangnya.
Sebelumnya sudah ada alat pendeteksi serupa yang digunakan di tambang, akan tetapi, ujar Bebrina, alat tersebut tak terkoneksi melalui ponsel. Penggunaan alat sensor tersebut, tidak semudah ketika menggunakan alat yang terkoneksi langsung ke ponsel yang dapat langsung memberikan peringatan jika terdapat gas metana.
Kedua siswi tersebut adalah Bebrina Latif Azzahra dan Raisya Qurrata Aini. "Di Sawahlunto banyak tempat tambang, dan sering terjadi ledakan. Salah satunya, terjadi pada Desember 2022 lalu," kata Bebrina, dikutip dari laman Kemenag, Rabu (6/9/2023).
Sawahlunto, lokasi sekolah mereka yang terletak di Sumatra Barat memang dikenal lama sebagai Kota Tambang karena banyak pertambangan batubara yang beroperasi di kota tersebut.
Namun demikian, di Kota Sawahlunto juga kerap terjadi kecelakaan kerja akibat ledakan gas metan di pertambangan batu bara. Gas ini terbentuk secara alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalification). Gas yang keluar tanpa bau, warna, dan mudah terbakar ini kerap tak disadari oleh para pekerja tambang sehingga banyak menimbulkan kecelakaan.
Baca juga: Wakili Indonesia, Santri Malhikdua Brebes Raih Juara 2 Lomba Debat Bahasa Arab di Qatar
“Kami mencari solusi bagaimana saat kadar gas metana terdeteksi melampaui batas akan memberikan peringatan kepada pekerja di tambang sehingga bisa menghindari terjadinya musibah ledakan dan adanya korban jiwa," terangnya.
Sebelumnya sudah ada alat pendeteksi serupa yang digunakan di tambang, akan tetapi, ujar Bebrina, alat tersebut tak terkoneksi melalui ponsel. Penggunaan alat sensor tersebut, tidak semudah ketika menggunakan alat yang terkoneksi langsung ke ponsel yang dapat langsung memberikan peringatan jika terdapat gas metana.
Lihat Juga :