Pemerintah Kembali Diingatkan Harus Hati-hati Buka Sekolah di Zona Kuning
Kamis, 06 Agustus 2020 - 08:01 WIB
loading...
A
A
A
Kasus yang bisa dijadikan rujukan lagi itu di Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung. Tak tanggung-tanggung, saat terdeteksi sudah 1.280 orang yang positif COVID-19. Budi menerangkan Finlandia, Korsel, dan Perancis, itu padahal jauh lebih bersih dari COVID-19 dibandingkan Indonesia.
Namun, tetap saja kecolongan ketika membuka sekolah yang memang menjadi tempat kerumunan. “Mereka punya sistem sehingga yang tertular langsung diketahui. Kalau di kita mungkin berhari-hari tidak tahu sudah terjadi penularan. (Tiba-tiba) banyak yang kena saja, seperti di sekolah tentara di Bandung,” tuturnya.
Dia memprediksi akan banyak orang tua yang tidak mau melepas anaknya sekolah tatap muka di zona kuning. Jika pemerintah keukeuh membuka, tentu perlu protokol kesehatan COVID-19 yang lebih ketat.
Budi memaparkan jumlah siswa per kelas yang masuk setiap harinya harus dibatasi. Guru, siswa-siswi, dan para staf harus menjaga jarak, serta menggunakan face shield dan masker. Ancaman penyebaran virus Sars Cov-II akan datang dari ketidakpatuhan seluruh stakeholder. (Baca: Pembukaan Sekolah Berisiko, DPR Minta PJJ Diperbaiki)
“Tapi kita tahu yang namanya anak sekolah itu suka kangen-kangenan. Kita ini bukan bangsa yang terlalu penurut (patuh). Bodo saja karena virusnya enggak kelihatan. Kalau virus segede macan baru mereka takut. Ini enggak kelihatan tapi mematikan. Kita tidak bisa lari dari virus,” tegasnya.
Namun, tetap saja kecolongan ketika membuka sekolah yang memang menjadi tempat kerumunan. “Mereka punya sistem sehingga yang tertular langsung diketahui. Kalau di kita mungkin berhari-hari tidak tahu sudah terjadi penularan. (Tiba-tiba) banyak yang kena saja, seperti di sekolah tentara di Bandung,” tuturnya.
Dia memprediksi akan banyak orang tua yang tidak mau melepas anaknya sekolah tatap muka di zona kuning. Jika pemerintah keukeuh membuka, tentu perlu protokol kesehatan COVID-19 yang lebih ketat.
Budi memaparkan jumlah siswa per kelas yang masuk setiap harinya harus dibatasi. Guru, siswa-siswi, dan para staf harus menjaga jarak, serta menggunakan face shield dan masker. Ancaman penyebaran virus Sars Cov-II akan datang dari ketidakpatuhan seluruh stakeholder. (Baca: Pembukaan Sekolah Berisiko, DPR Minta PJJ Diperbaiki)
“Tapi kita tahu yang namanya anak sekolah itu suka kangen-kangenan. Kita ini bukan bangsa yang terlalu penurut (patuh). Bodo saja karena virusnya enggak kelihatan. Kalau virus segede macan baru mereka takut. Ini enggak kelihatan tapi mematikan. Kita tidak bisa lari dari virus,” tegasnya.
(kri)
Lihat Juga :