5 Pahlawan Nasional yang Piawai Berdebat, Bung Karno hingga Tan Malaka
Selasa, 12 Desember 2023 - 11:29 WIB
loading...
A
A
A
Dalam perdebatan soal Papua di BPUPKI, dua tokoh yakni Kahar Muzzakar dan Muh Yamin menyetujui masuknya tanah Papua dalam pangkuan NKRI. Namun dalam pandangan Hatta dirinya tidak setuju ide dua koleganya itu.
Baca juga: Debat Perdana Capres Ditetapkan Format Townhall, Hasil Usulan TPN Ganjar-Mahfud
Bagi Hatta, jika faktor kesamaan etnis yang dijadikan alasan menarik Papua ke dalam NKRI, dirinya lebih setuju apabila Borneo utara (sekarang Brunei) yang masuk ke dalam wilayah RI dan bukannya Papua.
Bagi Hatta, orang Papua masuk dalam rumpun Melanisia dan berbeda dengan orang Melayu. Bagi Hatta dirinya lebih memilih menyerahkan persoalan masa depan Papua kepada masyarakat Papua sendiri atau biar diurus oleh Jepang saja. Gagasan Hatta itu pun kemudian ditentang oleh Bung Karno hingga memicu perdebatan sengit.
Soal kemampuan berdebat Sutan Sjahrir bisa ditelusuri dalam sejumlah perundingan antara Indonesia dengan Belanda pasca kemderkaan. Pasca proklamasi kemerdekaan, Sutan Sjahrir dikenal sebagai ujung tombak perjuangan diplomasi Indonesia. Dirinya mendapat julukan tersebut karena kontribusinya yang sangat besar terhadap keberhasilan perjuangan diplomasi Indonesia di dunia Internasional.
Kiprah Sutan Sjahrir dalam bidang diplomasi bermula pada bulan Oktober 1945. Pada saat itu, Sutan Sjahrir melakukan perundingan dengan Belanda terkait dengan pertempuran pasca proklamasi di beberapa kota Indonesia.
Pada perkembangannya, Sutan Sjahrir juga memimpin perundingan lain antara Indonesia dan Belanda seperti perundingan Hoge Valluwe dan Linggarjati. Dalam melaksanakan perundingan, Sutan Sjahrir tetap konsisten untuk berpegang teguh pada nilai – nilai humanisme dan demokrasi.
Salah satu buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana cara berdebat bisa ditelusuri dari karya terkenalnya Madilog, yang secara umum berisi bagaimana cara berdebat dan menggunakan logika. Dengan kata lain, Madilog banyak menguraikan cara berpikir untuk menjawab persoalan masyarakat tanpa dogma.
Baca juga: Debat Perdana Capres Ditetapkan Format Townhall, Hasil Usulan TPN Ganjar-Mahfud
Bagi Hatta, jika faktor kesamaan etnis yang dijadikan alasan menarik Papua ke dalam NKRI, dirinya lebih setuju apabila Borneo utara (sekarang Brunei) yang masuk ke dalam wilayah RI dan bukannya Papua.
Bagi Hatta, orang Papua masuk dalam rumpun Melanisia dan berbeda dengan orang Melayu. Bagi Hatta dirinya lebih memilih menyerahkan persoalan masa depan Papua kepada masyarakat Papua sendiri atau biar diurus oleh Jepang saja. Gagasan Hatta itu pun kemudian ditentang oleh Bung Karno hingga memicu perdebatan sengit.
3. Sutan Sjahrir
Soal kemampuan berdebat Sutan Sjahrir bisa ditelusuri dalam sejumlah perundingan antara Indonesia dengan Belanda pasca kemderkaan. Pasca proklamasi kemerdekaan, Sutan Sjahrir dikenal sebagai ujung tombak perjuangan diplomasi Indonesia. Dirinya mendapat julukan tersebut karena kontribusinya yang sangat besar terhadap keberhasilan perjuangan diplomasi Indonesia di dunia Internasional.
Kiprah Sutan Sjahrir dalam bidang diplomasi bermula pada bulan Oktober 1945. Pada saat itu, Sutan Sjahrir melakukan perundingan dengan Belanda terkait dengan pertempuran pasca proklamasi di beberapa kota Indonesia.
Pada perkembangannya, Sutan Sjahrir juga memimpin perundingan lain antara Indonesia dan Belanda seperti perundingan Hoge Valluwe dan Linggarjati. Dalam melaksanakan perundingan, Sutan Sjahrir tetap konsisten untuk berpegang teguh pada nilai – nilai humanisme dan demokrasi.
4. Tan Malaka
Salah satu buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana cara berdebat bisa ditelusuri dari karya terkenalnya Madilog, yang secara umum berisi bagaimana cara berdebat dan menggunakan logika. Dengan kata lain, Madilog banyak menguraikan cara berpikir untuk menjawab persoalan masyarakat tanpa dogma.
Lihat Juga :