Akademisi UI: Telah Bertransformasi Jadi Budaya Indonesia, Wayang Potehi Harus Dilestarikan
Sabtu, 24 Februari 2024 - 13:24 WIB
loading...
A
A
A
“Potehi telah menjadi sepenuhnya Indonesia. Pertunjukan ini bukan menjadi duta bagi budaya etnik Tionghoa, tetapi sebagai simbol dari budaya antar-etnik,” pungkasnya.
Ketua FSI Johanes Herlijanto menyatakan bahwa hadirnya budaya Tionghoa yang bercorak hibrid dan mengandung nilai-nilai keindonesiaan di atas juga akan berdampak secara positif bagi posisi etnik Tionghoa di Indonesia.
Baca juga: Tionghoa dalam Pendidikan Sejarah di Indonesia
“Karena budaya yang dirayakan tidak lagi memperlihatkan wajah budaya Tiongkok yang asing, namun budaya yang telah menjadi bagian dan mengandung nilai-nilai keindonesiaan, maka masyarakat Tionghoa yang berada di balik budaya tersebut pun akan semakin dipandang sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang utuh,” tutur Johanes dalam pernyataannya pada seminar tersebut.
Pemerhati Tionghoa yang mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) itu pun berpandangan bahwa persepsi masyarakat terhadap keindonesiaan etnik Tionghoa akan semakin menguat seiring dengan berkembangnya budaya Tionghoa yang berwajah Indonesia, yang bahkan dirayakan bersama oleh segenap masyarakat Indonesia itu.
Dalam seminar juga turut dihadirkan Afdal Ridho Arman, seorang sutradara muda dan praktisi film yang karyanya mengenai wayang Potehi ditayangkan dalam sela-sela seminar
Acara seminar diakhiri dengan sebuah himbauan dari FSI, agar masyarakat Indonesia mempertahankan, dan bahkan meningkatkan pandangan bahwa budaya-budaya Tionghoa, bukan hanya potehi, adalah bagian dari bangsa Indonesia yang harus kita terima dan hargai.
Masyarakat Tionghoa, bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya diharapkan bisa terus mengembangkan dan mempopulerkan budaya Tionghoa yang telah berakar di Indonesia, dan yang telah mengandung nilai-nilai keindonesiaan.
Ketua FSI Johanes Herlijanto menyatakan bahwa hadirnya budaya Tionghoa yang bercorak hibrid dan mengandung nilai-nilai keindonesiaan di atas juga akan berdampak secara positif bagi posisi etnik Tionghoa di Indonesia.
Baca juga: Tionghoa dalam Pendidikan Sejarah di Indonesia
“Karena budaya yang dirayakan tidak lagi memperlihatkan wajah budaya Tiongkok yang asing, namun budaya yang telah menjadi bagian dan mengandung nilai-nilai keindonesiaan, maka masyarakat Tionghoa yang berada di balik budaya tersebut pun akan semakin dipandang sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang utuh,” tutur Johanes dalam pernyataannya pada seminar tersebut.
Pemerhati Tionghoa yang mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) itu pun berpandangan bahwa persepsi masyarakat terhadap keindonesiaan etnik Tionghoa akan semakin menguat seiring dengan berkembangnya budaya Tionghoa yang berwajah Indonesia, yang bahkan dirayakan bersama oleh segenap masyarakat Indonesia itu.
Dalam seminar juga turut dihadirkan Afdal Ridho Arman, seorang sutradara muda dan praktisi film yang karyanya mengenai wayang Potehi ditayangkan dalam sela-sela seminar
Acara seminar diakhiri dengan sebuah himbauan dari FSI, agar masyarakat Indonesia mempertahankan, dan bahkan meningkatkan pandangan bahwa budaya-budaya Tionghoa, bukan hanya potehi, adalah bagian dari bangsa Indonesia yang harus kita terima dan hargai.
Masyarakat Tionghoa, bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya diharapkan bisa terus mengembangkan dan mempopulerkan budaya Tionghoa yang telah berakar di Indonesia, dan yang telah mengandung nilai-nilai keindonesiaan.
(wyn)
Lihat Juga :