Melatih Tenaga Pendidik, Mendeteksi Gangguan Kesehatan Mental pada Siswa
Senin, 13 Mei 2024 - 13:03 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahap Look, penting bagi guru untuk terlebih dahulu menilai keadaan dari peristiwa yang sedang terjadi serta tentang (profil) siswa yang membutuhkan bantuan. Juga harus bisa dinilai risiko (keselamatan dan keamanan siswa bersangkutan) misalnya apakah ada cedera fisik, bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan mendasar dari siswa tersebut, serta bagaimana reaksi emosional mereka.
Pada tahapan Listen, asesmen yang diberikan antara lain dengan mendengarkan, mengerti, mengeksplorasi, mendorong, dan mencari solusi. Guru harus serius memperhatikan dan mendengarkan siswa tersebut secara aktif, mampu memahami perasaannya, bisa menenangkannya terkait situasi krisis yang tengah mereka derita, menanyakan apa kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta mampu membantu menyelesaikan kebutuhannya yang mendesak dan memecahkan permasalahannya.
Tahapan terakhir yakni Link adalah menghubungkan siswa dengan orang atau pihak lain sesuai dengan kebutuhannya. Bila siswa membutuhkan penanganan medis dapat dirujuk ke dokter. Bila siswa membutuhkan konseling lebih lanjut bisa dirujuk ke konselor atau psikolog. Bila sudah ada gangguan psikologis yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut bisa dirujuk ke psikiater.
Setelah sesi roleplay, peserta juga diberikan tugas Praktik Mandiri. Peserta diberi kesempatan untuk melakukan praktik PFA kepada lingkungan sekitarnya, bisa kepada siswa, keluarga, atau kerabat. Setelah itu peserta membuat laporan dari praktik PFA yang telah dilakukan dan mempresentasikannya pada sesi evaluasi di akhir pertemuan.
Ketua Dies Natalis Psikologi Universitas Indonesia ke-64, Ringking Marina Korah, M.Si., mengungkapkan, para alumni Fakultas Psikologi sangat antusias bisa ikut berperan sebagai fasilitator pada sesi roleplay pelatihan PFA Batch II. “Kami senang bisa berkontribusi. Kami harap pembekalan ilmu PFA dapat membantu para tenaga pendidik untuk mendeteksi gangguan psikologis awal pada siswa,” pungkasnya.
Pada tahapan Listen, asesmen yang diberikan antara lain dengan mendengarkan, mengerti, mengeksplorasi, mendorong, dan mencari solusi. Guru harus serius memperhatikan dan mendengarkan siswa tersebut secara aktif, mampu memahami perasaannya, bisa menenangkannya terkait situasi krisis yang tengah mereka derita, menanyakan apa kebutuhan dan kekhawatiran mereka, serta mampu membantu menyelesaikan kebutuhannya yang mendesak dan memecahkan permasalahannya.
Tahapan terakhir yakni Link adalah menghubungkan siswa dengan orang atau pihak lain sesuai dengan kebutuhannya. Bila siswa membutuhkan penanganan medis dapat dirujuk ke dokter. Bila siswa membutuhkan konseling lebih lanjut bisa dirujuk ke konselor atau psikolog. Bila sudah ada gangguan psikologis yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut bisa dirujuk ke psikiater.
Setelah sesi roleplay, peserta juga diberikan tugas Praktik Mandiri. Peserta diberi kesempatan untuk melakukan praktik PFA kepada lingkungan sekitarnya, bisa kepada siswa, keluarga, atau kerabat. Setelah itu peserta membuat laporan dari praktik PFA yang telah dilakukan dan mempresentasikannya pada sesi evaluasi di akhir pertemuan.
Ketua Dies Natalis Psikologi Universitas Indonesia ke-64, Ringking Marina Korah, M.Si., mengungkapkan, para alumni Fakultas Psikologi sangat antusias bisa ikut berperan sebagai fasilitator pada sesi roleplay pelatihan PFA Batch II. “Kami senang bisa berkontribusi. Kami harap pembekalan ilmu PFA dapat membantu para tenaga pendidik untuk mendeteksi gangguan psikologis awal pada siswa,” pungkasnya.
(wyn)
Lihat Juga :