Kunci Beretika di Dunia Digital, Gunakan Gadget dengan Bijak dan Cerdas
Selasa, 21 Mei 2024 - 19:14 WIB
loading...
A
A
A
Budiman menjelaskan, guru mesti membimbing siswa dengan bijak dan cerdas saat mengakses gadget. Bimbingan itu bisa saat mereka berkomentar dan merespons akun yang diakses, agar tetap beretika dengan bahasa dan tutur tulis yang sopan.
”Kenapa? Karena yang diajak berkomunikasi di ruang digital itu manusia nyata yang menghargai etika dan tata krama. Jangan sampai siswa salah pilih konten dan saling mem-bully sesama teman. Itu akan memunculkan risiko sosial yang buruk, bahkan bisa berdampak hukum serius,” ujarnya.
Dari sudut pandang berbeda, Mahir Institute Partner Ardiansyah, mengingatkan pentingnya para pelaku pendidikan meng-upgrade kecakapan digital. Aplikasi Artificial Intelligence (AI) misalnya, kalau dimanfaatkan secara positif, akan menjadi semacam portofolio dan membangun personal branding yang bagus.
”Sebaliknya, sangat berbahaya apabila siswa salah memilih konten. Dampaknya bisa merusak masa depan. Karena itu, mari rawat jejak digital kita agar selalu positif. Pilih dan cermati secara bijak konten yang pantas ditonton sesuai usia. Guru dan orang tua perlu mendampingi, memilihkan konten yang tepat untuk siswa,” pesan nya.
Pembicara lain, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Arief Budiman mengingatkan siswa untuk tidak mudah berbagi data pribadi di ruang digital. Kalau perlu, di akun yang bersifat publik, pakai nama samaran dan pakai foto Avatar
”Kenapa? Karena yang diajak berkomunikasi di ruang digital itu manusia nyata yang menghargai etika dan tata krama. Jangan sampai siswa salah pilih konten dan saling mem-bully sesama teman. Itu akan memunculkan risiko sosial yang buruk, bahkan bisa berdampak hukum serius,” ujarnya.
Dari sudut pandang berbeda, Mahir Institute Partner Ardiansyah, mengingatkan pentingnya para pelaku pendidikan meng-upgrade kecakapan digital. Aplikasi Artificial Intelligence (AI) misalnya, kalau dimanfaatkan secara positif, akan menjadi semacam portofolio dan membangun personal branding yang bagus.
”Sebaliknya, sangat berbahaya apabila siswa salah memilih konten. Dampaknya bisa merusak masa depan. Karena itu, mari rawat jejak digital kita agar selalu positif. Pilih dan cermati secara bijak konten yang pantas ditonton sesuai usia. Guru dan orang tua perlu mendampingi, memilihkan konten yang tepat untuk siswa,” pesan nya.
Pembicara lain, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Arief Budiman mengingatkan siswa untuk tidak mudah berbagi data pribadi di ruang digital. Kalau perlu, di akun yang bersifat publik, pakai nama samaran dan pakai foto Avatar
Lihat Juga :