Sejarah Hari Pramuka Diperingati Setiap 14 Agustus, Simak Ya
Rabu, 14 Agustus 2024 - 06:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mengenal 10 Dasa Darma Pramuka dan Makna Pembelajarannya
Ada pula Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Tri Darma (Kristen), Kepanduan Asas Katolik Indonesia, dan Kepanduan Masehi Indonesia.
Kepanduan di Indonesia yang berkembang pesat menarik perhatian Bapak Pandu Sedunia Lord Baden-Powell yang memboyong anak dan istrinya pada Desember 1934 berkunjung ke organisasi kepanduan di Surabaya, Semarang, dan Batavia.
Dalam sejarahnya, kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Akan tetapi, jumlah perkumpulan kepramukaan ini tak sebanding dengan jumlah anggotanya.
Perkindo juga melemah karena masih ada rasa golongan yang tinggi. Tak mau gerakan kepanduan ini pecah, pada awal Oktober 1959 Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjadi Pandu Agung kemudian mengagas peleburan ratusan organisasi kepanduan tersebut.
Para tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan di Indonesia dikumpulkan dan di bawah komando Soekarno, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu dengan nama Pramuka.
Presiden menunjuk panitia terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono. Lalu pada 9 Maret 1961 nama Pramuka dan menjadi Hari Tunas Gerakan Pramuka pun diresmikan.
Tak lama berselang, 20 Mei 1961 Presiden Soekarno menerbitkan Surat Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka dan momen tersebut dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.
Ada pula Kepanduan Bangsa Indonesia, Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie, Pandu Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Tri Darma (Kristen), Kepanduan Asas Katolik Indonesia, dan Kepanduan Masehi Indonesia.
Kepanduan di Indonesia yang berkembang pesat menarik perhatian Bapak Pandu Sedunia Lord Baden-Powell yang memboyong anak dan istrinya pada Desember 1934 berkunjung ke organisasi kepanduan di Surabaya, Semarang, dan Batavia.
Dalam sejarahnya, kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Akan tetapi, jumlah perkumpulan kepramukaan ini tak sebanding dengan jumlah anggotanya.
Perkindo juga melemah karena masih ada rasa golongan yang tinggi. Tak mau gerakan kepanduan ini pecah, pada awal Oktober 1959 Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjadi Pandu Agung kemudian mengagas peleburan ratusan organisasi kepanduan tersebut.
Para tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan di Indonesia dikumpulkan dan di bawah komando Soekarno, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu dengan nama Pramuka.
Presiden menunjuk panitia terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono. Lalu pada 9 Maret 1961 nama Pramuka dan menjadi Hari Tunas Gerakan Pramuka pun diresmikan.
Tak lama berselang, 20 Mei 1961 Presiden Soekarno menerbitkan Surat Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka dan momen tersebut dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.
Lihat Juga :