Solusi Atasi Masalah Lingkungan, CSR UI Ajarkan Olah Limbah Jadi Ecobrick
Minggu, 01 September 2024 - 16:50 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut ia mengatakan, proses pembuatan Ecobrick tidak memerlukan peralatan atau keterampilan khusus, sehingga sangat mudah diterapkan oleh siapa saja. Alat yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sampah plastik bersih yang telah digunting kecil-kecil, dan kayu penekan untuk memadatkan sampah dalam botol.
Standar yang digunakan dalam pembuatan Ecobrick adalah dengan memastikan bahwa botol terisi penuh dan padat, dengan berat minimum mencapai sepertiga dari volume botol. Sebagai contoh, untuk botol berukuran 600ml, berat Ecobrick yang dihasilkan harus mencapai 200 gram.
“Keunggulan lain dari Ecobrick adalah fleksibilitasnya. Produk-produk yang dihasilkan dari Ecobrick dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kreativitas masyarakat setempat. Diharapkan, ke depannya masyarakat dapat menjual hasil kreasi dari Ecobrick tersebut secara mandiri. Dengan demikian, gerakan ini tidak hanya berperan sebagai solusi pengelolaan limbah, tetapi juga sebagai sumber pendapatan baru bagi warga desa,” kata Suryane.
Sementara itu, dengan melihat potensi besar yang dimiliki Ecobrick, berbagai pihak di Desa Sukarame, termasuk pemerintah desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah menyatakan dukungannya untuk melanjutkan inisiatif ini. Salah satu rencana jangka panjang yang tengah digagas adalah pembentukan kelompok bank sampah desa yang akan berfokus pada pengumpulan dan pengolahan limbah plastik menjadi Ecobrick.
Kelompok ini nantinya diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah setempat dan provinsi dalam mengembangkan program pengelolaan limbah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Dengan adanya program ini, kami optimistis Desa Sukarame bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengelola limbah plastik dengan cara yang kreatif dan berkelanjutan. Ecobrick membuka peluang besar bagi masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sampah,” ujar Direktur Eksekutif BUMDes Selat Sunda Sukarame, Hasan Basri.
![Solusi Atasi Masalah Lingkungan, CSR UI Ajarkan Olah Limbah Jadi Ecobrick]()
Program Edukasi Pembuatan Ecobrick (EPIK) di Desa Sukarame, Banten. (Foto: dok Universitas Indonesia)
Standar yang digunakan dalam pembuatan Ecobrick adalah dengan memastikan bahwa botol terisi penuh dan padat, dengan berat minimum mencapai sepertiga dari volume botol. Sebagai contoh, untuk botol berukuran 600ml, berat Ecobrick yang dihasilkan harus mencapai 200 gram.
“Keunggulan lain dari Ecobrick adalah fleksibilitasnya. Produk-produk yang dihasilkan dari Ecobrick dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kreativitas masyarakat setempat. Diharapkan, ke depannya masyarakat dapat menjual hasil kreasi dari Ecobrick tersebut secara mandiri. Dengan demikian, gerakan ini tidak hanya berperan sebagai solusi pengelolaan limbah, tetapi juga sebagai sumber pendapatan baru bagi warga desa,” kata Suryane.
Sementara itu, dengan melihat potensi besar yang dimiliki Ecobrick, berbagai pihak di Desa Sukarame, termasuk pemerintah desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah menyatakan dukungannya untuk melanjutkan inisiatif ini. Salah satu rencana jangka panjang yang tengah digagas adalah pembentukan kelompok bank sampah desa yang akan berfokus pada pengumpulan dan pengolahan limbah plastik menjadi Ecobrick.
Kelompok ini nantinya diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah setempat dan provinsi dalam mengembangkan program pengelolaan limbah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Dengan adanya program ini, kami optimistis Desa Sukarame bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengelola limbah plastik dengan cara yang kreatif dan berkelanjutan. Ecobrick membuka peluang besar bagi masyarakat tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sampah,” ujar Direktur Eksekutif BUMDes Selat Sunda Sukarame, Hasan Basri.

Program Edukasi Pembuatan Ecobrick (EPIK) di Desa Sukarame, Banten. (Foto: dok Universitas Indonesia)
Lihat Juga :