UN Dihapus, Lulusan Indonesia Disebut Susah Masuk Kampus Belanda dan Jerman
Senin, 23 September 2024 - 16:13 WIB
loading...
A
A
A
"Hal ini karena tingkat pendidikan SMA kita sudah dianggap tidak setara dengan SMA di Belanda," lanjut Irwan.
Baca juga: Terbaru, LPDP dan Australia Awards Tawarkan Beasiswa S2 Bersama
Tidak hanya di University of Twente, hal serupa juga terjadi di banyak universitas lain di Belanda karena ijazah lulusan SMA Indonesia dianggap turun kelas sehingga lebih cocok untuk pendaftaran ke hogeschool atau university of applied science—institusi pendidikan yang fokus pada keterampilan praktis daripada penelitian akademik.
Kondisi ini juga terjadi di Jerman. Irwan menjelaskan bahwa persyaratan masuk ke Studienkolleg, lembaga praperguruan tinggi bagi lulusan internasional, semakin ketat. "Jika sebelumnya nilai minimum adalah 60, sekarang naik menjadi 85 untuk lulusan SMA dari Indonesia," tambahnya.
Menurut Irwan, hal ini menjadi bukti bahwa perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia, seperti penghapusan UN dan seringnya pergantian kurikulum, tidak luput dari perhatian negara-negara lain. Mereka melihat perubahan tersebut dan membuat penilaian sendiri mengenai kualitas pendidikan di Indonesia.
Baca juga: Terbaru, LPDP dan Australia Awards Tawarkan Beasiswa S2 Bersama
Tidak hanya di University of Twente, hal serupa juga terjadi di banyak universitas lain di Belanda karena ijazah lulusan SMA Indonesia dianggap turun kelas sehingga lebih cocok untuk pendaftaran ke hogeschool atau university of applied science—institusi pendidikan yang fokus pada keterampilan praktis daripada penelitian akademik.
Kondisi ini juga terjadi di Jerman. Irwan menjelaskan bahwa persyaratan masuk ke Studienkolleg, lembaga praperguruan tinggi bagi lulusan internasional, semakin ketat. "Jika sebelumnya nilai minimum adalah 60, sekarang naik menjadi 85 untuk lulusan SMA dari Indonesia," tambahnya.
Menurut Irwan, hal ini menjadi bukti bahwa perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia, seperti penghapusan UN dan seringnya pergantian kurikulum, tidak luput dari perhatian negara-negara lain. Mereka melihat perubahan tersebut dan membuat penilaian sendiri mengenai kualitas pendidikan di Indonesia.
Lihat Juga :