Sidang Tanwir Muhammadiyah, Abdul Mu'ti Bicara tentang Pendidikan Bermutu untuk Semua
Jum'at, 06 Desember 2024 - 16:15 WIB
loading...
A
A
A
"Perlu saya sampaikan secara nyata Muhammadiyah memiliki peran penting dalam pendidikan nasional. Jumlah sekolah swasta yang paling banyak di Indonesia adalah sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah, begitu pula jumlah murid swasta terbesar belajar di perguruan Muhammadiyah," jelasnya disambut tepuk tangan peserta.
Data per April 2024, terdapat 1.054.000 murid yang belajar di sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Jumlah guru terbanyak juga yang mengajar di Muhammadiyah, termasuk guru yang lulus PPPK. Dari 110.000 lebih guru lulus PPPK, lebih dari 10.000 guru PPPK dari Muhammadiyah.
Menteri Mu'ti mengatakan, beberapa hal yang bisa dilakukan bersama adalah Wajib Belajar 13 Tahun yang dimulai dari pendidikan pra-sekolah. Pendidikan pra- sekolah yang paling banyak adalah Aisyiyah. Artinya, keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun ditentukan oleh ibu-ibu Aisyiyah melalui Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal.
Kerja sama lain dengan Muhammadiyah adalah layanan pendidikan bermutu untuk semua khusus di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Keberhasilan layanan pendidikan di daerah 3T sebagian perlu mendapat dukungan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM), dukungan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Lembaga Dakwah Khusus (LDK).
Di daerah 3T undang-undangnya satu desa satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal itu, katanya, bisa digarap Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM). Menurut Mu'ti, di daerah terpencil tidak terjangkau layanan sekolah, sehingga perlu dilakukan pendekatan melalui relawan pendidikan atau relawan mengajar.
Data per April 2024, terdapat 1.054.000 murid yang belajar di sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Jumlah guru terbanyak juga yang mengajar di Muhammadiyah, termasuk guru yang lulus PPPK. Dari 110.000 lebih guru lulus PPPK, lebih dari 10.000 guru PPPK dari Muhammadiyah.
Menteri Mu'ti mengatakan, beberapa hal yang bisa dilakukan bersama adalah Wajib Belajar 13 Tahun yang dimulai dari pendidikan pra-sekolah. Pendidikan pra- sekolah yang paling banyak adalah Aisyiyah. Artinya, keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun ditentukan oleh ibu-ibu Aisyiyah melalui Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal.
Kerja sama lain dengan Muhammadiyah adalah layanan pendidikan bermutu untuk semua khusus di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Keberhasilan layanan pendidikan di daerah 3T sebagian perlu mendapat dukungan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM), dukungan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan Lembaga Dakwah Khusus (LDK).
Di daerah 3T undang-undangnya satu desa satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal itu, katanya, bisa digarap Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM). Menurut Mu'ti, di daerah terpencil tidak terjangkau layanan sekolah, sehingga perlu dilakukan pendekatan melalui relawan pendidikan atau relawan mengajar.
Lihat Juga :