MBKM Mandiri di Garut Dukung OVOP Desa Sukamukti Menuju Pasar Global
Senin, 09 Desember 2024 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
Penjualan Supet sudah menjangkau banyak daerah di Indonesia, dan kami berharap ke depan produk ini bisa menembus pasar internasional.
Selain Supet, Desa Sukamukti juga memiliki 114 UMKM yang terdaftar di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, Supet tetap menjadi produk unggulan yang diharapkan dapat membawa nama desa ini mendunia.
Dalam upaya mendukung pengembangan UMKM di Desa Sukamukti, tim mahasiswa dari empat perguruan tinggi memberikan pendampingan komprehensif. Mereka membantu pelaku UMKM mengadopsi teknologi digital dan memahami strategi pemasaran modern.
Galih Afrizal, salah satu perwakilan tim mahasiswa dari STIH Garut mengatakan, pendampingan yang mereka berikan mencakup pelatihan manajemen keuangan agar pelaku usaha mampu memisahkan keuangan bisnis dan rumah tangga, seminar branding produk, serta cara memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran.
“Kami memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya branding. Mulai dari cara mengambil foto produk yang menarik, mengatur jadwal live streaming di TikTok, hingga penggunaan marketplace. Dengan begitu, UMKM di desa ini dapat bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Galih, di sela acara Peliputan Program Perguruan Tinggi Gotong Royong Membangun Desa Kabupaten Garut.
Sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan metode pemasaran tradisional, seperti menjual produk secara langsung dari pintu ke pintu. Bahkan, pelaku UMKM terbesar di desa ini, pemilik salah satu pabrik Supet, masih menggunakan metode manual untuk menjangkau pembeli di Bali dan daerah lainnya.
Galih berharap dengan dukungan berkelanjutan, pelaku UMKM optimis dapat memperluas jaringan pemasaran mereka. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga memperkenalkan Supet sebagai produk unggulan desa Sukamukti ke pasar yang lebih luas.
Selain Supet, Desa Sukamukti juga memiliki 114 UMKM yang terdaftar di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun, Supet tetap menjadi produk unggulan yang diharapkan dapat membawa nama desa ini mendunia.
Dalam upaya mendukung pengembangan UMKM di Desa Sukamukti, tim mahasiswa dari empat perguruan tinggi memberikan pendampingan komprehensif. Mereka membantu pelaku UMKM mengadopsi teknologi digital dan memahami strategi pemasaran modern.
Galih Afrizal, salah satu perwakilan tim mahasiswa dari STIH Garut mengatakan, pendampingan yang mereka berikan mencakup pelatihan manajemen keuangan agar pelaku usaha mampu memisahkan keuangan bisnis dan rumah tangga, seminar branding produk, serta cara memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran.
“Kami memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya branding. Mulai dari cara mengambil foto produk yang menarik, mengatur jadwal live streaming di TikTok, hingga penggunaan marketplace. Dengan begitu, UMKM di desa ini dapat bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Galih, di sela acara Peliputan Program Perguruan Tinggi Gotong Royong Membangun Desa Kabupaten Garut.
Sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan metode pemasaran tradisional, seperti menjual produk secara langsung dari pintu ke pintu. Bahkan, pelaku UMKM terbesar di desa ini, pemilik salah satu pabrik Supet, masih menggunakan metode manual untuk menjangkau pembeli di Bali dan daerah lainnya.
Galih berharap dengan dukungan berkelanjutan, pelaku UMKM optimis dapat memperluas jaringan pemasaran mereka. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga memperkenalkan Supet sebagai produk unggulan desa Sukamukti ke pasar yang lebih luas.
Lihat Juga :