Unpas Perkuat Kompetensi Mahasiswa HI dengan Pelatihan Manajemen Krisis
Jum'at, 07 Februari 2025 - 19:43 WIB
loading...
A
A
A
“Pelatihan manajemen krisis ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis, tetapi juga meningkatkan daya saing mereka di dunia kerja yang semakin kompleks. Di era global ini, kemampuan mengelola krisis adalah kompetensi utama yang harus dimiliki oleh setiap profesional, terutama bagi mereka yang bergerak di bidang diplomasi dan hubungan internasional,” ujar
CEO NEXUS RMSC, Firsan Nova dalam sesinya mengatakan bahwa saat ini, diplomat tidak hanya bertugas dalam negosiasi antar negara tetapi juga harus mampu membangun dan menjaga citra negara di mata dunia.
"Diplomat adalah komunikator utama yang membawa kepentingan nasional ke panggung global. Mereka harus memahami strategi komunikasi, termasuk manajemen krisis, untuk menjaga reputasi negara saat menghadapi tantangan diplomatik," ujar Firsan Nova.
Firsan juga menekankan bahwa keterampilan dalam mengelola narasi krisis menjadi semakin penting, terutama dengan cepatnya penyebaran informasi di media massa dan media sosial.
"Dalam dunia yang serba cepat ini, ketidakmampuan mengelola komunikasi krisis bisa berujung pada eskalasi isu yang merugikan negara maupun organisasi," tambahnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Crisis PR Strategist di NEXUS, Aisyah Muftian Mursyid, menjelaskan bahwa salah satu aspek krusial dalam manajemen krisis adalah media handling.
“Dalam situasi krisis, bagaimana sebuah organisasi atau bahkan negara berkomunikasi dengan media dapat menentukan arah pemberitaan dan opini publik. Kesalahan dalam menangani media dapat memperburuk situasi dan menimbulkan dampak reputasi jangka panjang,” ujar Aisyah dalam sesi pelatihannya.
Aisyah menyoroti bahwa kecepatan dan ketepatan dalam memberikan respons kepada media sangatlah krusial. “Jangan biarkan ruang kosong dalam komunikasi, karena ketika kita diam, narasi akan dibentuk oleh pihak lain, yang mungkin tidak sesuai dengan fakta,” tambahnya.
CEO NEXUS RMSC, Firsan Nova dalam sesinya mengatakan bahwa saat ini, diplomat tidak hanya bertugas dalam negosiasi antar negara tetapi juga harus mampu membangun dan menjaga citra negara di mata dunia.
"Diplomat adalah komunikator utama yang membawa kepentingan nasional ke panggung global. Mereka harus memahami strategi komunikasi, termasuk manajemen krisis, untuk menjaga reputasi negara saat menghadapi tantangan diplomatik," ujar Firsan Nova.
Firsan juga menekankan bahwa keterampilan dalam mengelola narasi krisis menjadi semakin penting, terutama dengan cepatnya penyebaran informasi di media massa dan media sosial.
"Dalam dunia yang serba cepat ini, ketidakmampuan mengelola komunikasi krisis bisa berujung pada eskalasi isu yang merugikan negara maupun organisasi," tambahnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Crisis PR Strategist di NEXUS, Aisyah Muftian Mursyid, menjelaskan bahwa salah satu aspek krusial dalam manajemen krisis adalah media handling.
“Dalam situasi krisis, bagaimana sebuah organisasi atau bahkan negara berkomunikasi dengan media dapat menentukan arah pemberitaan dan opini publik. Kesalahan dalam menangani media dapat memperburuk situasi dan menimbulkan dampak reputasi jangka panjang,” ujar Aisyah dalam sesi pelatihannya.
Aisyah menyoroti bahwa kecepatan dan ketepatan dalam memberikan respons kepada media sangatlah krusial. “Jangan biarkan ruang kosong dalam komunikasi, karena ketika kita diam, narasi akan dibentuk oleh pihak lain, yang mungkin tidak sesuai dengan fakta,” tambahnya.
Lihat Juga :