Tingkatkan Akses Pendidikan Tinggi, UI Kembangkan Pendidikan Berbasis Siber
Senin, 12 Mei 2025 - 21:37 WIB
loading...
A
A
A
Kemajuan pendidikan di Korea Selatan tertangkap jelas oleh delegasi Universitas Indonesia (UI) yang baru-baru ini berkunjung ke universitas-universitas di Korea atas undangan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Delegasi UI dipimpin oleh Rektor Heri Hermansyah. Delegasi lainnya adalah Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI Ahmad Gamal, Wakil Rektor Bidang Infrastruktur dan Fasilitas Agus Setiawan, Kepala Badan Kerja Sama dan Kewirausahaan Nia Ayu Ismaniati, Direktur Pengembangan Pendidikan Digital Diantha Soemantri, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Chairul Hudaya, Dekan FIB Bondan Kanumoyoso, dan Wakil Dekan FIB Untung Yuwono.
Mereka berkesempatan mengunjungi beberapa universitas di Korea Selatan yang telah berkembang menjadi universitas siber, seperti Tae Jae University, Pai Chai University, Kyung Hee Cyber University, dan Cyber Hankuk University of Foreign Studies. Kunjungan juga dimanfaatkan untuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) UI dan universitas-universitas mitra di Korea Selatan.
Hal unik yang tampil tegas dalam perkembangan pendidikan tinggi di Korea dewasa ini adalah berdirinya universitas-universitas siber. Saat ini tidak hanya ada Korea National Open University, universitas siber pertama di Korea Selatan, yang berdiri pada tahun 1972, tetapi bertumbuh kembang universitas-universitas menjadi universitas siber. Tiap universitas siber itu diperlengkapi dengan studio yang diperlengkapi peralatan canggih untuk memproduksi modul-modul pembelajaran berbasis digital.
Pengembangan universitas siber di Korea Selatan juga didukung kurikulum yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri dan standar akademik yang tinggi. Sebagai dampaknya, universitas-universitas siber di Korea Selatan memiliki tingkat kelulusan yang tinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menyelesaikan program pendidikan dengan baik.
Tidak hanya itu, beberapa universitas siber di Korea Selatan telah mendapatkan pengakuan internasional, seperti akreditasi dari lembaga akreditasi internasional. Kolaborasi antara universitas dan industri berjalan melalui pengembangan modul-modul pembelajaran kolaboratif.
Menurut Heri, selain aksesibilitas yang lebih luas, biaya pendidikan berbasis siber juga akan lebih rendah dan pembelajar dapat belajar sesuai dengan jadwal dan kecepatan mereka sendiri atau self-paced, sehingga lebih mudah untuk menggabungkan pendidikan dengan pekerjaan atau tanggung jawab lainnya.
Mereka berkesempatan mengunjungi beberapa universitas di Korea Selatan yang telah berkembang menjadi universitas siber, seperti Tae Jae University, Pai Chai University, Kyung Hee Cyber University, dan Cyber Hankuk University of Foreign Studies. Kunjungan juga dimanfaatkan untuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) UI dan universitas-universitas mitra di Korea Selatan.
Hal unik yang tampil tegas dalam perkembangan pendidikan tinggi di Korea dewasa ini adalah berdirinya universitas-universitas siber. Saat ini tidak hanya ada Korea National Open University, universitas siber pertama di Korea Selatan, yang berdiri pada tahun 1972, tetapi bertumbuh kembang universitas-universitas menjadi universitas siber. Tiap universitas siber itu diperlengkapi dengan studio yang diperlengkapi peralatan canggih untuk memproduksi modul-modul pembelajaran berbasis digital.
Pengembangan universitas siber di Korea Selatan juga didukung kurikulum yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri dan standar akademik yang tinggi. Sebagai dampaknya, universitas-universitas siber di Korea Selatan memiliki tingkat kelulusan yang tinggi, yang menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menyelesaikan program pendidikan dengan baik.
Tidak hanya itu, beberapa universitas siber di Korea Selatan telah mendapatkan pengakuan internasional, seperti akreditasi dari lembaga akreditasi internasional. Kolaborasi antara universitas dan industri berjalan melalui pengembangan modul-modul pembelajaran kolaboratif.
Menurut Heri, selain aksesibilitas yang lebih luas, biaya pendidikan berbasis siber juga akan lebih rendah dan pembelajar dapat belajar sesuai dengan jadwal dan kecepatan mereka sendiri atau self-paced, sehingga lebih mudah untuk menggabungkan pendidikan dengan pekerjaan atau tanggung jawab lainnya.
Lihat Juga :