Transformasi Pendidikan Berbasis STEM Jadi Kunci Terwujudnya Generasi Unggul untuk Indonesia Emas
Selasa, 20 Mei 2025 - 18:42 WIB
loading...
Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen), Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed
A
A
A
JAKARTA - Transformasi pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi kunci bagi terwujudnya generasi unggul dan berdaya saing tinggi untuk mendukung Indonesia Emas 2045.
Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen), Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., dalam keterangannya menilai bahwa sistem pendidikan sains dan teknologi di Indonesia perlu diubah secara fundamental agar lebih relevan dengan kehidupan siswa masa kini.
“Sains sejatinya adalah cara berpikir, yaitu bagaimana melihat persoalan, merumuskan solusi, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan,” ujar Dr. Stephanie.
Perempuan yang juga aktif sebagai penggiat pendidikan, filantropi, dan pengembangan program pendidikan berbasis nilai, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor itu menilai, pembelajaran sains dan matematika di tanah air masih kerap terjebak pada pendekatan lama seperti hafalan rumus, ujian pilihan ganda, dan minimnya praktik di kelas.
Padahal, di tengah revolusi teknologi global, pendidikan berbasis STEM bukan lagi sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak. Sebab dunia saat ini menuntut generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Menurutnya, selama ini banyak siswa merasa asing dengan pelajaran STEM karena pendekatan pembelajarannya kurang membumi. Padahal, bidang ini memiliki potensi besar dalam membentuk pola pikir logis dan kreatif, yang sangat dibutuhkan di era kecerdasan buatan saat ini.
Dr. Stephanie mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Finlandia yang telah membuktikan dampak positif dari investasi jangka panjang dalam pendidikan STEM. Korea Selatan, misalnya, telah menjadikan STEM sebagai prioritas sejak 1960-an dan kini menjadi salah satu negara dengan ekonomi berbasis teknologi tinggi. Finlandia pun dikenal luas dengan sistem pendidikan inovatif yang menekankan kreativitas dan pembelajaran lintas disiplin.
Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen), Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., dalam keterangannya menilai bahwa sistem pendidikan sains dan teknologi di Indonesia perlu diubah secara fundamental agar lebih relevan dengan kehidupan siswa masa kini.
“Sains sejatinya adalah cara berpikir, yaitu bagaimana melihat persoalan, merumuskan solusi, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan,” ujar Dr. Stephanie.
Perempuan yang juga aktif sebagai penggiat pendidikan, filantropi, dan pengembangan program pendidikan berbasis nilai, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor itu menilai, pembelajaran sains dan matematika di tanah air masih kerap terjebak pada pendekatan lama seperti hafalan rumus, ujian pilihan ganda, dan minimnya praktik di kelas.
Padahal, di tengah revolusi teknologi global, pendidikan berbasis STEM bukan lagi sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak. Sebab dunia saat ini menuntut generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Menurutnya, selama ini banyak siswa merasa asing dengan pelajaran STEM karena pendekatan pembelajarannya kurang membumi. Padahal, bidang ini memiliki potensi besar dalam membentuk pola pikir logis dan kreatif, yang sangat dibutuhkan di era kecerdasan buatan saat ini.
Dr. Stephanie mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Finlandia yang telah membuktikan dampak positif dari investasi jangka panjang dalam pendidikan STEM. Korea Selatan, misalnya, telah menjadikan STEM sebagai prioritas sejak 1960-an dan kini menjadi salah satu negara dengan ekonomi berbasis teknologi tinggi. Finlandia pun dikenal luas dengan sistem pendidikan inovatif yang menekankan kreativitas dan pembelajaran lintas disiplin.
Lihat Juga :