FTUI: Pandemi Buka Peluang Merancang Ulang Ibu Kota Negara
Selasa, 08 September 2020 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Ia juga menjelaskan, bangunan-bangunan yang ada di kota perlu adaptasi kembali penggunaannya (adaptive reuse). Menurutnya, kini tingkat hunian perkantoran, pertokoan/mal di perkotaan menurun drastis. Makanya, ia menilai perlu dipertimbangkan kembali fungsi ruang kantor, ruang aula, auditorium, atau cinema besar.
Misalnya, dengan berkurangnya penggunaan lapangan parkir mobil terbuka akibat pembatasan protokol kesehatan, perlu dipikirkan adaptive reuse untuk fungsi lain, seperti drive in cinema atau drive through sunday market untuk waktu-waktu tertentu. "Serta memperbanyak taman-taman kota, RPTRA, dan mengarahkan pembangunan berorientasi lingkungan hijau dan biru," jelasnya.
Penjelasan ini disampaikan dalam seminar online bertajuk 'Smart City dan Covid-19: Relevansinya dengan Ibu Kota Negara Pascapandemi', pada Jumat, 4 September 2020. Forum ilmiah ini diadakan untuk mendiskusikan beragam pertanyaan dan permasalahan yang timbul sebagai akibat adanya pandemi. Seminar online ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Departemen Arsitektur FTUI.
Selain Antony, para ahli yang hadir menyampaikan gagasan dan pandangannya, Founder dan Director of Urban Sibarani Sofian, yang juga pemenang pertama dalam kompetisi desain Ibu Kota Negara. Kemudian, ada Urban and Regional Planning dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna, dan Evawani Ellisa, (Departemen Arsitektur FTUI) sebagai moderator.
Sebanyak tujuh tema seminar online digelar mulai 18 Agustus hingga 11 September 2020. Sebagai puncak dari rangkaian webinar, sebuah virtual round table meeting akan dilaksanakan pada September 2020. Forum tersebut akan mengundang arsitek, perencana kota dan para ahli di bidang yang terkait, untuk merumuskan fenomena pandemi ini. Sumbangan ini diharapkan dapat memaknai 55 tahun berdirinya Departemen Arsitektur FTUI dan memberikan sumbangsih pemikiran dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk menangani pandemi covid-19.
Misalnya, dengan berkurangnya penggunaan lapangan parkir mobil terbuka akibat pembatasan protokol kesehatan, perlu dipikirkan adaptive reuse untuk fungsi lain, seperti drive in cinema atau drive through sunday market untuk waktu-waktu tertentu. "Serta memperbanyak taman-taman kota, RPTRA, dan mengarahkan pembangunan berorientasi lingkungan hijau dan biru," jelasnya.
Penjelasan ini disampaikan dalam seminar online bertajuk 'Smart City dan Covid-19: Relevansinya dengan Ibu Kota Negara Pascapandemi', pada Jumat, 4 September 2020. Forum ilmiah ini diadakan untuk mendiskusikan beragam pertanyaan dan permasalahan yang timbul sebagai akibat adanya pandemi. Seminar online ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Departemen Arsitektur FTUI.
Selain Antony, para ahli yang hadir menyampaikan gagasan dan pandangannya, Founder dan Director of Urban Sibarani Sofian, yang juga pemenang pertama dalam kompetisi desain Ibu Kota Negara. Kemudian, ada Urban and Regional Planning dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna, dan Evawani Ellisa, (Departemen Arsitektur FTUI) sebagai moderator.
Sebanyak tujuh tema seminar online digelar mulai 18 Agustus hingga 11 September 2020. Sebagai puncak dari rangkaian webinar, sebuah virtual round table meeting akan dilaksanakan pada September 2020. Forum tersebut akan mengundang arsitek, perencana kota dan para ahli di bidang yang terkait, untuk merumuskan fenomena pandemi ini. Sumbangan ini diharapkan dapat memaknai 55 tahun berdirinya Departemen Arsitektur FTUI dan memberikan sumbangsih pemikiran dan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk menangani pandemi covid-19.
(mpw)
Lihat Juga :